AJB-Zulhelmi Perang Dingin

Dipicu Fikar Bakal Maju Pilwako

0
Ilustrasi: Anung W/Seru Jambi
SERUJAMBI.COM, Kerinci – Hubungan Walikota Sungai Penuh Asafri Jaya Bakri (AJB) dengan Wakil Walikota Sungia Penuh Zulhelmi dikabarkan mulai tak harmonis. Keduanya sudah mulai perang dingin. Isu keretakan hubungan antara AJB dan Zulhelmi sudah santer terdengar di kalangan masyarakat.
Apalagi disiapkannya Fikar Azami, anak kandung AJB sebagai Ketua DPRD. Dan kabarnya AJB sedang menyiapkan Fikar menjadi calon Wali Kota Sungai Penuh. Itu membuat Zulhelmi merasa tersaingi dan malah makin membuka konfrontasi.
Wawako Sungai Penuh Zulhelmi, kepada Seru Jambi menjelaskan, jika hubungannya dan AJB masih harmonis, tidak ada perpecahan.
“Semua biasa-biasa saja. Kita tidak pecah kongsi,”singkatnya diplomatis.
Mengenai isu keretakan karena keduanya jarang terlihat bersama. Lagi-lagi Zulhelmi menjawab diplomatis. Ia cenderung menutupi jika hubungannya dengan AJB sudah mulai tak sejalan.
“Itu karena kita punya kesibukan dan juga kewenangan masing-masing,”ujarnya.
Zulhelmi juga enggan menanggapi soal disiapkannya fikar menjadi Walikota oleh AJB. “Itu hak politik pak AJB yang tidak bisa kita larang. Kita tak bisa ikut campur,”katanya.
Mengenai masalah hubungan AJB yang secara terbuka terlihat marah dengan adik kandungn Zulhelmi, Kadis Sosial Kota Sungai Penuh, ia menegaskan, itu tak masalah. Bukan berarti mereka berdua dianggap tak sejalan. Zulhelmi juga menegaskan tak akan tersinggung dengan AJB. Zulhelim merasa tak perlu intervensi juga.
“Kita punya wewenang sendiri, terlepas itu keluarga sendiri, namanya pimpinan ya kita harus patuhi. Walikota itu kan pimpinan tertinggi,”tandasnya.
Belum lama ini, Wali Kota Sungai Penuh, Asafri Jaya Bakri (AJB) sempat meradang. Itu terkait adanya 3 anak yatim piatu yang hidup dalam kesusahan dan kemiskinan di Desa Koto Padang, Kecamatan Tanah Kampung, Kota Sungai Penuh.
Sialnya, masalah itu justru muncul dari media. Sementara AJB selaku Walikota tak pernah tahu dan tak pernah mendapat laporan dari bawahan.
AJB tentu merasa kesal karena khawatir nantinya pemerintah dianggap tak peduli terhadap kaum dhuafa. Makanya, AJB bakal memanggil Kepala Dinas Sosial Kota Sungai Penuh, Harfendi, yang tak lain merupakan adek kandung dari Wakil Wali Kota Sungai Penuh, Zulhelmi.
Pengamat Politik Provinsi Jambi, Doni Yusra, menilai, memang ada perang dingin antara Walikota Asafri Jaya Bakri (AJB) dengan Wakil Walikota Zulhelmi.
Doni menjelaskan, indikasi itu bisa terlihat dari komentar AJB yang secara terbuka terlihat geram dengan adik kandung Wawako, kadis sosnaker Kota Sungai Penuh.
“Itu sudah jelas indikasi tak harmonis. Seharusnya, cukup dipanggil saja dan tak perlu gembar-gembor di media. Itu tanda sudah tak sejalan,”ujarnya.
Menurut Doni, ada beberapa faktor penyebab yang sudah menjadi rahasia umum keretakan kepala daerah, termasuk AJB dan Zulhelmi. Faktor itu adalah, si kepala daerah kerap menganggap wakilnya akan menjadi rival di Pilkada selanjutnya.
Jika menilik, dari faktor ini, memang diketahui, saat ini anak kandung dari AJB, Fikar Azami yang saat menjabat sebagai Ketua DPRD Sungai Penuh, sedang dipersiapkan menjadi calon Walikota Sungai Penuh di Pilkada mendatang. Tentunya akan bertarung melawan Zulhelmi.
“Fenomena seperti ini memang sering terjadi di setiap daerah pasca Pilkada. Apalagi, jelas kedepan Fikar bakal di orbitkan menjadi calon Walikota,” ujar Doni saat dihubungi Seru Jambi, Selasa (24/10/2017).
Kemudian, sambung Doni, yakni adanya deal-deal politik yang dilanggar antara kepala daerah dengan wakilnya. Sebelum Pilkada dimulai, setiap pasangan kepala deaerah tentu memiliki deal, tapi setelah berhasil memenangkan pilkada deal-deal ini, dilanggar masing-masing pihak.
“Ini juga bisa menjadi faktor  yang membuat retaknya keharmonisan kepala daerah dengan wakilnya,” kata Doni.
Doni juga mengatakan, tidak adanya kesadaran masing-masing kepada daerah dalam menjalankan porsi tugas. Misalnya, walikota terlalu banyak show up, daripada wakilnya. Sehingga timbul kecemburuan. Begitu, juga wakil walikota yang tidak sadar diri dengan porsinya sebagai wakil.
“Wakil memang dalam tanda kutip kita sebut ban serep, tentu dia memiliki porsi yang lebih sedikit. Tapi, kadang wakil ini menyerobot saja tugas yang seharusnya dijalankan oleh orang nomor satunya,” ungkap Doni.
Tentu, kalau sudah seperti ini, kata Doni, masyarakatlah yang menjadi korban. Karena, kepala daerah dan wakilnya akan menjalankan program pemerintahan sendiri-sendiri. Dan biasanya, kalau sudah terjadi individualisme antara kepala daerah dan wakil kepala daerah, program daerah itu tidak akan berjalan maksimal.
“Program daerah yang dibuat akan dicap sebagai program pribadi, program masing-masing. Seharusnya program daerah itu adalah program yang benar-benar dilaksanakan secara sinergis antara kepala daerah, wakil dan OPD di daerah tersebut,” ujar Doni.
Doni juga melihat, khusus di Kota Sungai Penuh, yang mana anak dari Walikota AJB, Fikar menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Sungai Penuh. Menurut Doni, kondisi seperti ini, tidak akan menciptakan cek and balance dalam menjalankan roda pemerintahan Sungai Penuh.
“Yang saya heran tidak ada media yang menggelitik ke arah itu,” pungkas Doni.(rzi/hry/mui)
Loading Facebook Comments ...
loading...