BBS Akan Buat Buku Tentang Tes Keperawanan pada Siswa

2
Bambang Bayu Suseno (BBS). Foto: Istimewa
SERUJAMBI.COM – Wacana soal tes keperawanan, sebenarnya sudah mencuat di Provinsi Jambi tahun 2010 lalu. Wacana itu disampaikan oleh Bambang Bayu Susesno (BBS), kala itu anggota DPRD Provinsi Jambi Komisi IV. Kini, BBS berencana membuat buku soal tes keperawanan pada proses penerimaan siswa baru. Seperti apa?
Ditemui beberapa waktu lalu, BBS tak mau bicara banyak soal wacana tes keperawanan pada penerimaan siswa baru di sekolah maupun perguruan tinggi. Ia menerangkan, segala ide dan masukkannya itu, akan dituliskan dalam satu buku khusus, supaya masyarakat bisa paham maksud dan tujuan sebenarnya.
“Nanti kita bahas bagaimana bukunya,” ungkap Wakil Bupati Muarojambi ini, kepada Seru Jambi, belum lama ini.
Untuk diketahui, wancana tentang tes keperawanan saat tes penerimaan siswa baru (PSB), sempat heboh di Indonesia bahkan dunia, pada tahun 2010 lalu. Namun, ide ini tak terealisasi karena pro kontra bermunculan di masyarakat Jambi.
Apakah ide ini akan kembali direalisasikan? Apakah jika tak perawan siswa tak bisa sekolah atau melanjutkan kuliah? Kita tunggu saja perkembangannya.
Untuk diketahui, baru-baru ini, Hakim Binsar Gultom menyebut, syarat pasangan menikah harus dinaikkan dari 19 tahun menjadi 25 tahun bagi laki-laki dan 16 menjadi 19 tahun bagi perempuan. Bahkan, bila perlu diadakan tes keperawanan.
Pemikiran Binsar Gultom tertuang dalam bukunya yang berjudul ‘Pandangan Kritis Seorang Hakim’, seperti dikutip dari laman detikcom, Minggu (10/9/2017).
Hal yang paling penting dilakukan, kata Binsar, bila perlu sebelum pernikahan harus diatur persyaratan yang tegas, yakni mereka masih dalam kondisi kudus, suci, artinya masih perawan atau tidak. “Untuk itu, harus ada tes keperawanan,” kata Binsar dalam bukunya di halaman 194.
Jika ternyata sudah tidak perawan lagi, maka perlu tindakan preventif dan represif dari pemerintah. Barangkalai, kata Binsar, pernikahan bisa ditunda –bukan dibatalkan, red- dulu.
“Mengapa harus demikian? Karena salah satu yang membuat terjadinya perpecahan dalam rumah tangga karena perkawinan dilakukan dalam keadaan terpaksa, sudah hamil terlebih dahulu,” pungkas. (nas)
Loading Facebook Comments ...
loading...