Drama Kolosal Pattimura Warnai HUT RI ke- 72

0
Pahlawan Nasional, Kapitan Pattimura. Foto: Istimewa

SERUAMBON.COM, Ambon – Peringatan HUT ke-72 Republik Indonesia di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), yang dilaksanakan di lapangan Mandriak Sifnane, Saumlaki, Kamis (17/8), diwarnai pementasan drama kolosal perjuangan Kapitan Pattimura dan masyarakat Maluku melawan penjajah.

Siaran pers yang diterima Antara menyebutkan, drama tersebut disaksikan oleh Bupati MTB, Petrus Fatlolon, Wakil Bupati, Agustinus Utuwaly dan seluruh pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta ribuan undangan lainnya.

Pementasan kisah perjuangan Kapitan Pattimura itu terselenggara atas kerja sama Kodim 1507/Saumlaki, dr.Juliana Chatarina Ratuanik dan Radio Ureyana Cordis, melibatkan lebih dari 200 pemain yang terdiri dari 1 SSK prajurit TNI Batlayon Infanteri 734/Satria Nusa Samudera dan kelompok pelajar dalam sanggar binaan dr. Juliana Chatarina Ratuanik.

“Drama ini berceritera tentang perlawanan rakyat Indonesia melawan penjajah, hingga merebut kemerdekaan. Ini persembahan anak-anak di Maluku Tenggara Barat, daerah perbatasan antar Negara untuk Indonesia. Dari MTB dan Maluku untuk Indonesia,” kata Juliana.

Awalnya, para pelakon memerankan perjuangan rakyat Maluku dalam melawan para penjajah Belanda yang datang dan mengusai perdagangan rempah-rempah sebagai hasil utama masyarakat Maluku.

Pemberontakan yang dipimpin oleh Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura ini sempat memukau hadirin karena kisah perjuangannya yang amat pilu.

Pattimura dengan ksatria memimpin perang melawan Belanda. Karena kekuatan rakyat yang tak dapat dibendung lagi maka Belanda pun memainkan tipu muslihat untuk mengajak Pattimura berunding.

Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Pattimura bersama para tokoh pejuang lain yang bersamanya akhirnya dapat ditangkap dan kemudian diadili di Pengadilan Kolonial Belanda dengan tuduhan melawan pemerintah Belanda.

Sebelum dijatuhi hukuman gantung, Belanda ternyata terus membujuk Pattimura agar dapat bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda, namun Pattimura menolaknya.

Pattimura berkata, “Saya katakan kepada kamu sekalian bahwa saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya. Saya katakan kepada kamu sekalian bahwa saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya. Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit.” John N.S. (ant/ara)

Loading Facebook Comments ...
loading...