Hemat (bukan kikir)

0
Ilustrasi. Foto: Istimewa

SERUJAMBI.COM – Dua sahabat karib, A dan B, sama-sama berhenti dari perusahaan tempat mereka bekerja. Keduanya mengambil jalan bisnis. Setelah berembuk, keduanya sepakat membuat rumah makan.

A dan B mengeluarkan modal yang sama, koki sama, menu sama dan lokasi tak beda jauh. Sama-sama di sebelah loket bus.

Dua tahun berjalan, rumah makan milik B tutup. Sedang milik A maju pesat, malah, A sudah mulai membangun tempat usahanya sendiri, tidak lagi menyewa.

Ini membuat B bertanya-tanya. Hingga datanglah B menemui A untuk mencari tahu apa kiat A hingga sesukses itu.

Kepada B, A menanyakan apakah operasional rumah makan efesien? B menjawab, iya, sudah efesien. Lalu, A bertanya apakah gaya hidup pribadi B seperti hedonis (berpoya-poya)? B menjawab, tidak, semua sepeti semula, pola hidup sederhana. Terakhir, A bertanya, apakah B sering mengeluarkan sebagian pendapatan untuk berbagi kepada pelanggan dan sesama mahluk Tuhan? B diam, lalu bertanya balik, bukankah itu malah pemborosan? A tersenyum.

Dengan bijak, A mulai bercerita.

Berjalan tiga bulan pertama rumah makan miliknya, A kesulitan mendapatkan pelanggan. Ia menerapkan sistem pengusaha baru, yakni, ketat di segi pengeluaran dan rakus di sisi pendapatan.

Jalan enam bulan, rumah makan miliknya tak ada kemajuan. Jalan di tempat. Sampai akhirnya ia menyadari ada seorang tukang sapu jalan (petugas kebersihan kota), yang selalu berhenti untuk membeli nasi bungkus di rumah makan miliknya. Timbul rasa iba A melihat kondisi ibu paruh baya itu. Dengan gaji tak seberapa, si petugas kebersihan masih rela menyisihkan uangnya untuk sekedar membeli nasi bungkus dengan lauk hanya gulai tahu.

Satu siang, A bercakap-cakap dengan ibu itu. Setelah tahu betapa prihatinnya ekonomi keluarga si petugas kebersihan itu, A akhirnya menggratiskan nasi bungkus lauk ikan kepada si ibu. Betapa girangnya si ibu.

Sekali berbuat baik, A jadi ketagihan. Ia mulai berhitung. Rugikah jika setiap hari ia memberi sebungkus nasi gratis kepada orang lain? Ternyata, tidak rugi, hanya mengurangi untung. Bagaimana kalau lebih dari sebungkus? Begitu dihitung lagi, cash in dikurangi operasional, akhirnya A mendapat angka pasti jumlah nasi bungkus gratis yang siap dibagikan setiap hari.

A akhirnya menambah karyawan. Gaji kecil tapi makan siang-malam ditanggung perusahaan. Malah, karyawan diperbolehkan membawa pulang sebungkus nasi lagi untuk dibagikan kepada keluarga karyawan. Lalu A berinovasi. Begitu pelanggannya banyak, A menerapkan sistem diskon dan bonus.

Tak berapa lama, rumah makan milik A kebanjiran pembeli. Pelanggan terus bertambah. Dan setiap pendapatan naik, setiap itu pula nasi bungkus gratis dari rumah makan miliknya bertambah untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. A malah sudah menjadi donatur tetap bagi tiga panti asuhan. Meski, sumbangannya hanya dalam bentuk beberapa bungkus nasi plus lauk enak gratis.

Belakangan A baru tahu bahwa si petugas kebersihan, para karyawan dan pelanggan yang puas, menjadi pemasaran terbaik bagi rumah makan miliknya. Mereka lah yang mempromosikan rumah makan A kepada orang banyak.

“Jadi sahabatku, hemat itu bukan berarti kikir, tapi pengeluaran yang perlu dan tak merugikan pembukuan.”

Begitu A menutup kisahnya. (SeruJambi.com)

Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: