Kadis LH Tebo Digarap Polisi

0
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Tebo, Eko Putra Hoesin Saad
Eko: Ini Fitnah, Saya Akan Tuntut Balik
SERUJAMBI.COM, Tebo – Kasus pencurian sawit milik PT Tebo Alam Lestari (TAL) yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat, kini masuk keranah hukum. Ini berawal dari laporan Koperasi Unit Desa (KUD) yang dinaungi PT TAL ke Polsek Sumay, Tebo.
Menariknya, sekelompok masyarakat Desa semabu, Sumay, Tebo yang dilaporkan ini menyebut, jika perbuatan melanggar hukum yang mereka lakukan itu, telah mendapat izin dari Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup (LH) dan juga Komisi II DPRD Tebo.
Berdasarkan kesaksian tersebut, pihak Kepolisian Polsek Sumay melayangkan surat pemanggilan yang ditujukan kepada Kadis LH, Eko Putra Hoesin Saad. Kepastian akan hal ini diungkapkan langsung oleh Kanit Reskrim Polsek Sumay, Aiptu Umar Ibrohim.
Dikatakannya, bahwa pihaknya bakal memanggil Eko Putra Hoesin Saad, terkait kasus dugaan pencurian buah sawit PT Tebo Alam Lestari (TAL) yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat di Desa Semambu, Kecamatan Sumay tersebut. “Benar, kami ingin meminta keterangan secara langsung dari pak Eko. Itu sebabnya, kami melayangkan surat pemanggilan kepada Kadis LH Tebo,” terang Umar.
Ditambahkannya, kejadian pencurian sawit itu terjadi sekitar tanggal 11 Sepetember 2017 lalu. Berdasarkan keterangan dan laporan Ketua KUD, Hadi Muslim (24/09/2017), Polsek Sumay kemudian memproses laporan tersebut.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Tebo, Eko Putra Hoesin Saad, saat dikonfirmasi, membenarkan bahwa ia telah menerima surat pemanggilan tersebut. Dijelaskannya, bahwa surat pemanggilan dari Polsek tersebut berisi untuk meminta dia mengklarifikasi terkait kasus dugaan pencurian buah sawit PT Tebo Alam Lestari (TAL) oleh sekelompok masyarakat di Desa Semambu Kecamatan Sumay. “Kelompok masyarakat ini mengaku jika sudah mendapat izin dari kita (Dinas LH Tebo) untuk memanen (mencuri) buah sawit milik PT TAL,”Ungkap Eko kepada sejumlah awak media.
Eko Putra pun menjelaskan kronologis kejadiannya, saat itu, pihak LH telah menyepakati bersama dengan PT TAL bahwa pohon sawit milik PT TAL yang berada di sepadan sungai atau 50 meter dari bibir sungai tidak diperbolehkan untuk di tebang, dipanen maupun dipupuk.
“Kita sudah menyepakati dengan PT TAL di Provinsi, bahwa 50 meter dari bibir sungai tidak boleh ditebang,  dipanen maupun dipupuk,” terang Eko.
Eko menegaskan, Jika ada yang mengatakan kalau dirinya yang memberikan izin atau merekomendasi untuk memanen atau mengambil buah sawit milik PT TAL, itu jelas fitnah. Dan jika nanti tidak terbukti, maka pihak Dinas LH akan menuntut balik.
“Jika ada kelompok orang atau masyarakat maupun individu yang terbukti menjual atau membawa-bawa nama institusi LH pada kasus ini, saya sebagai pemimpin akan menuntut balik sesuai hukum dan aturan yang berlaku,” tegasnya.(esy/clp)
Loading Facebook Comments ...
loading...