Karena Dokter Gigi

0
oleh J.B. Martien, S.E.

Oleh: J.B. Martien, S.E. *

DULU, sewaktu kecil saya takut pergi ke dokter gigi. Selalu bergidik menanti di ruang tunggu dokter gigi, karena bayangan saya setiap anak yang keluar dari ruang dokter gigi menampilkan wajah muram bahkan bercucuran air mata. Sekarang pun masih mikir-mikir kalau ingin ke dokter gigi.

Jauh dari masalah per-GIGI-an, dokter gigi kini menjadi lebih terkenal gegara seorang Ketua DPRD Provinsi Jambi mencibir profesi tersebut.

“… Tolong dicatat, dia tidak pantas menempati jabatan direktur dia seorang dokter gigi, tidak pas untuk menempati jabatan sebagai Kepala Rumah Sakit” sebut ketua DPRD tersebut.

Musababnya klasik, karena telah banyak pengaduan atas pelayanan RSRM yang masuk ke DPRD Provinsi Jambi. Terakhir lagi dengan adanya kejadian yang tak mengenakkan, menimpa keluarga mantan Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus (HBA). Alasan yang bagus dan klasik.

Namun bicara kinerja direktur RS, tentu harus ada indikator. Jangan sekedar bicara pakai perasaan dan emosi semata tapi juga menggunakan data. Jangan sampai seorang wakil rakyat yang tugasnya “bicara” hanya bisa bicara kosong.

Karena jauh sebelum dokter gigi menjadi direktur RS, dokter-dokter lain pernah menjadi direktur RS, pun pelayanan rumah sakit tetap menjadi sorotan. Seperti ketidakpuasan pasien/keluarga terhadap pelayanan medis/paramedis, biaya yang masih tinggi, dan fasilitas RS yang tidak memadai.

Bahkan, saat dokter lain yang menjadi direktur RS, tercatat ada yang tersangkut kasus korupsi, ada juga dokter yang mengundurkan diri dari Jabatan direktur RS. Apakah ini juga jadi bahan evaluasi anggota dewan bicara*? *(parle = bicara).

Jika seorang dokter gigi dianggap tidak pantas menjadi Direktur RS, lalu siapakah yang lebih pantas, Pak Dewan? apa perlu kita kembalikan jabatan Direktur kepada orang yang tersangkut kasus korupsi atau yang sudah mengundurkan diri?

Utamanya, jabatan Direktur RS adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dan dievaluasi siapapun direkturnya. Bukan dievaluasi karena “dokter gigi”-nya.

Jadi penasaran, bagaimana perasaan dokter gigi-dokter gigi di seantero negeri bila mendengar kata-kata “Dokter gigi tidak pantas jadi direktur RS”? Apakah akan terasa ngilu, seperti bor gigi yang bekerja mengebor gigi.

Dan Meggi Z sudah lama menasihati kita untuk, “daripada sakit hati lebih baik sakit gigi ini biar tak mengapa..”.

Salam gigi!(*)

(*) Ketua DPD KNPI Kabupaten Sarolangun

Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: