Kekuatan Sang Petahana di Pilwako Kota Jambi

0

Oleh : Wahyu Hidayat

KPU dan DPR sepakat menentukan tanggal pegelaran pilkadaserentak 2018. Pilkada kali ini melibatkan 171 daerah yang akan dilaksanakan pada 27 juni 2018. Hal ini merupakan implementasi dari negara demokrasi, dimana demokrasi memberikan jalan bagi masyarakat untuk berpartsipasi dalam menentukan pemimpin ataupun dalaam hal ini kepala daerah.

Pemilihan kepala daerah merupakan salah satu rangkain pesta demokrasi yang dalam waktu dekat akan bergulir. Pesta demokrasi ini akan berlangsung di beberapa provinsi salah satunya provinsi jambi. Pikada serentak di provinsi jambikali ini akan dilaksanakan di beberapa daerah kabupaten/kota, salah satunya kota jambi.Menarik sebenaranya membahas bagiamana peta kekuatan di pilwako kali ini, beberapa kandidat sudah siap bertarung demi memperebutkan menjadi orang nomor satu di kota jambi.

Sebelum hari H pilkada serntak dilaksanakan sudah banyak tokoh-tokoh yang mulai mensosialisasikan diri bakal maju di pilwako kali ini, dari tokoh politisi muda hingga politisi senior, dinamika ini membuktikan bahwa pilwako kali ini akan berjalan sangat alot, mengingat masing-masing bakal calon memiliki peluang dan kesempatan sama.

Sejauh ini sudah beberapa tokoh menurut penulis yang sudah siap bertarung diantaranya fasha sang petahana, abdullah sani saat ini menjabat wakil wali kota, maualana serta laza sang tokoh muda. Dari keempat bakal calon menurut penulis akan terjadi dua kandidat dalam pilwako kali ini.

Terleapas dari dinamika bakal calon diatas, penulis disini ingin melihat bagaimana kekuatan sang petahana.  Petahana merupakan seseorang yang memiliki kedudukan ataupun sebgai pemegang kekuasaan saat ini yakni sebgai wali kota. Mengingat beberapa pemilhan kepala daerah taring sang petahana menurun ketika pilkada, alhasil sang petahan kalah dalam perebutan kursi kepala daerah. Dipilkada provinsi minslanya saat itu pak HBA yang maju sebagai  petahana kalah dalam pemilihan gubernur, kali ini fasha sang petahana diuji apakah sanggup mempertahankan status sebagai wali kota.

Problem ini tentunya menjadi referensi bagi sang petahana pilwako untuk berhati-hati dalam menghadapi pegelaran pesta demokrasi kali ini. Kerja ekstra, kerja keras tentunya menjadi  pilhan utama agar nantinya tidak tumbang dalam pemilihan wali kota tahun 2018. karena beban moral kali ini terletak pada sang petahana, sang petahana dituntut harus menang jika karena kemenangan di pilwako kali ini sebagai ajang pembuktian berhasilnya memimpin kota jambi selama lima tahun, artinya ini menjadi tolak ukur kepuasan masyarakat kota jambi terhadap kepemimpinan fasha.

Fasha sang petahana akhir-akhir ini memang sedang aktif-aktifnya turun ke masyarakat karena statusnya masih sebagai wali kota namun dilain sisi ia seklaigus berinteraksi sosial politik kepada masyarakat. Status sebagai wali kota memang menjadi keunggulan fasha untuk mengahadapi serangan-serangan berbahaya dari beberaapa bakal calon yang menantangnya di pilwako kota jambi.

Dilain sisi beberpa momentum dimanfatkan sang petahan untuk  menarik simpati masyarakat, terutama akhir-akhir ini kota jambi beberapa kali menerima penghargaan di tingkt nasional maupun internasional, tentunya ini juga ajang sang petahana untuk berkampanye dalam artian memebritahukan bahwa kepemimpinannya berhasil meraih penghargan nasional maupun internasional.

Kemudian penulis juga melihat dimana saat ini hubungan wali kota dan wakilnya akhir-akhir ini kurang harmonis, penulis melihat ada kejanggalan kinerja sang wakil tidak terlihat, karena setiap kali ucapan selamat setelah meraih prestasi tertuju hanya kepada wali kota, seolah-olah wakil tidak berbuat apa-apa. Disinilah menurut penulis ketidak harmonisan wali kota dan wakilnya.

Tidak haemonisnya keduanya juga terlihat ketika abdullah sani sang wakil wali kota juga bakal maju dalam pilwako tahun 2018, ketika fahsa dan abdullah sani bertarung ini sangat menarik sekali untuk di saksikan karena sebelumnya mereka berdua berpasangan dan kali ini harus bertarung fight untuk merebut kursi wali kota.

Keuntungan fasha kali sebagai petahana memebrikan ia kesempatan berkampanye terlebih dahulu namun tidak serta merta kemenangan menjamin, keuntungan memang ditangan sang petahana, namun beban moral kali ini ada dipundak sang petahan, karena jika sampai tumbang di pilwako berarti kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinannya tidak puas.

Kita tunggu bagaiaman kekuatan fasha sang petahana mampukah ia mempertahankan gelar wali kotanya atau bisa jadi ia tumbang dalam pilwako kali ini oleh wakilnya sendiri saat ini. sebagai masyarakat kita hanya bisa menilai siapa bakal wali kota yang akan mampu berkontribusi memajukan kota jambi dan melayani masyarakat sebaik-baiknya, karena esensi seorang pemimpin ialah seseorang yang selalu ada bagi pengikutnya dan siap memberikan pelayanan maksimal terhadap masyarakat kota jambi.

Penulis adalah Menteri ADKESMA BEM Universitas Jambi dan mahasiswa aktif ilmu pemerintahan fisipol unja.

Loading Facebook Comments ...