Kids Jaman Now: Dari Medsos Hingga Film Dewasa

0
Ilustrasi. Anung W/Seru Jambi
SERUJAMBI.COM, Jambi – Anak muda zaman kini patut dikhawatirkan perkembangannya. Apalagi, berdasar razia yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Jambi, terungkap bahwa sejumlah smartphone yang digunakan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Jambi, memuat film dengan konten dewasa atau porno.
Smartphone yang seyogianya digunakan sebagai media komunikasi dan berinteraksi ini, disalahgunakan untuk melihat konten yang tak seharusnya dilihat oleh pelajar.
Pengakuan seorang siswa SMK pemilik smartphone, film yang berdurasi 30 detik hingga 30 menit ini, ia peroleh dari kiriman group Media Sosial (Medsos) WhatsApp dan Line.
Puluhan film yang memeragakan beragam adegan porno ini, kata dia, tersimpan otomatis di smartphonenya. “Bukan download. Otomatis tersimpan dari kiriman group,” aku dia lagi.
Melihat kondisi ini, Kasat Pol PP Kota Jambi, Yan Ismar, mengatakan, pihaknya tidak akan membebaskan anak dan mengembalikan smartphone yang berisikan film itu, hingga orang tuanya datang mengambil dan menjemput anaknya.
“Kita tidak akan membebaskan anak dan mengembalikan smartphone, hingga orang tuanya datang. Kita ingin orang tuanya tahu, untuk apa smartphone ini digunakan,” kata Yan.
Kedepan, katanya, pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan Kota Jambi, bagaimana solusi agar penggunaan smartphone ini bisa diawasi. “Kita akan koordinasi dengan dinas pendidikan Kota Jambi. Tapi untuk anak SMA ini, kita serahkan ke Pemprov, bagaimana solusi mengatasinya,” pungkas dia.
Sementara, Agus Herianto, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Jambi dikonfirmasi Seru Jambi, mengaku kaget dengan kondisi ini. Ia pun berjanji akan menertibkan penggunaan handphone ataupun smartphone di sekolah.
“Ada bagusnya, anak–anak ini tidak membawa Hp ke sekolah. Kadang–kadang orang ini alasannya untuk antar jemput. Ke depan ini akan kita tertibkan,” kata dia.
Namun, ia menyarankan, jika memang mudharatnya atau manfaat buruk lebih besar, sebaiknya handphone ini tidak dibawa ke sekolah. “Kalau butuh komunikasi, sekolah harus menyiapkan. Di SMP 7, misalnya, di sana disediakan Hp yang berbayar. Sekali menelepon, anak bayar,” sarannya.
Ia juga setuju penerapan pakaian seragam sekolah kembali di aktifkan. “Tujuannya sebagai identitas sekolah, sehingga ketika mereka berkeliaran di luar, anak anak ini akan malu,” pungkasnya.
Melihat kondisi ini, Pengamat Pendidikan yang juga Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Profesor Mukhtar Latif MPd, mengatakan, ini adalah tren budaya populer atau budaya pop yang kini tengah mengglobal.
Tren pop yang suguhannya poya-poya, fashion, termasuk pemanfaatan smartphone untuk menyaksikan film porno ini, tidak bisa dihindari. Tren yang sifatnya permisiv (membolehkan) ini membawa generasi muda ke puncak dunia untuk bersenang–senang.
Selain itu, menurut dia, tren negatif seperti ini bukan lagi fenomena melainkan membentuk budaya baru. Apalagi saat ini, teknologi ini sudah sampai ke dunia ‘bilik’ generasi muda. Menembus tembok dinding pagar, termasuk pagar nilai, moral dan akhlak.
“Tren pop ini tidak bisa kita hentikan dan kita matikan. Kita juga tidak bisa menghentikan anak-anak kita untuk tidak menggunakan android, karena ini budaya era ini. Kita hanya bisa melindungi anak–anak kita dengan mem-backup mereka dengan nilai–nilai moral dan akhlak,” kata Profesor Mukhtar, Kamis (26/10/2017).
Untuk mem-backup itu, menurut dia, ada tiga unsur yang harus terlibat. Pertama, kata dia, keluarga atau orang tua. Orang tua harus mengetahui dengan persis tentang karakter budaya Pop ini.
“Anak-anak kita ini hidup di dunia maya. Orang tua harus bisa mengontrol. Media atau aplikasi apa yang akan digunakan anak. Kita tidak bisa membatasi anak harus begini, harus begitu. Kita hanya bisa mengontrol,” kata Mukhtar.
Orang tua, harus bisa memberi kontrol dan hal-hal yang layak untuk anak mereka. Memberi pengetahuan tentang moralitas akhlak, agama dan adat istiadat,  “orang tua harus memiliki keberagaman nilai ini”.
Dan yang terpenting, menurut dia, orang tua harus menerapkan nilai-nilai itu sebagai uswah (keteladanan). “Sekarang banyak orang tua yang minta anak ini dan itu. Tapi dia sendiri justru tidak mengerjakannya. Orang tua harus memahami dan berlajar,” sebutnya.
Kedua, dari pihak sekolah. Guru juga harus bisa menjadi panutan. “Guru tidak boleh Gaptek. Karena dari bangun tidur hingga tidur lagi, anak-anak kita sudah menggunakan smartphone. Guru hari ini harus selangkah dari muridnya, baik dari segi keilmuan, akhlak dan karakter. Kalau bisa, ada semacam konseling yang dilakukan oleh guru melalui smartphone-nya,” kata dia.
Ketiga, adalah mengoptimalkan peran pemerintah dalam mengontrol siswa di luar rumah maupun di luar sekolah. “Pemerintah lakukan penyisiran ke sekolah dan ke spot-spot tempat anak-anak muda kumpul. Libatkan Satpol PP, Diknas dan pengawas. Kalau bisa pak Walikota pak Bupati turun langsung,” ujarnya.
“Nah ketika semua ini sudah kompak, di rumah ada orang tua, di sekolah ada perlindungan guru, di luar ada pemerintah yang mengawasi, tentu ini akan tinggi tingkat keberpihakan dan perlindungan kepada anak. Masalah ini akan teratasi dengan baik,” pungkasnya.(clp)
Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: