Menggelorakan Penguatan Pendidikan Karakter

0
Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). (ist)
SERUNESIA.COM, Jakarta – Rabu (15/11), Ada sebuah diskusi menarik di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) bertema “Peran Lemhannas RI dalam Penguatan Pendidikan Karakter”.

Penguatan pendidikan karakter sedang berusaha digelorakan kembali oleh pemerintah melalui gerakan pendidikan.

Gerakan pendidikan ini di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Bahkan Presiden Joko Widodo pada 6 September lalu telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Peraturan Presiden (Perpres) itu antara lain mempertimbangkan 18 nilai pendidikan karakter yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan Nasional (kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) dan diimplementasikan sejak tahun ajaran 2011.

Ke-18 nilai dalam pendidikan karakter itu adalah nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Penguatan pendidikan karakter bertujuan membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan.

Selain itu penguatan pendidikan karakter juga bertujuan mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia.

Penguatan pendidikan karakter juga bertujuan merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan PPK.

Penyelenggaraan penguatan pendidikan karakter pada satuan pendidikan jalur pendidikan formal, dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan intrakurikuier, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan dilaksanakan di dalam dan/atau di luar lingkungan satuan pendidikan formal.

Penyelenggaraan penguatan pendidikan karakter pada satuan pendidikan jalur pendidikan formal, dilaksanakan selama enam atau lima hari sekolah dalam satu minggu, dengan mempertimbangkan kecukupan pendidik dan tenaga kependidikan, ketersediaan sarana dan prasarana, kearifan lokal, dan pendapat tokoh masyarakat dan/atau tokoh agama di luar komite sekolah/madrasah.

Sementara penyelenggaraan penguatan pendidikan karakter pada satuan pendidikan jalur pendidikan nonformal, dilaksanakan oleh satuan pendidikan jalur pendidikan nonformal berbasis keagamaan dan lainnya, merupakan penguatan nilai-nilai karakter melalui materi pembelajaran dan metode pembelajaran dalam pemenuhan muatan kurikulum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Adapun penyelenggaraan penguatan pendidikan karakter pada satuan pendidikan jalur pendidikan informal dilakukan melalui penguatan nilai-nilai karakter dalam pendidikan di keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Pelaksanaan penguatan pendidikan karakter dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Penguatan pendidikan karakter dilaksanakan oleh kementerian/lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan dan kebudayaan, urusan pemerintahan di bidang agama, urusan pemerintahan dalam negeri, dan pemerintah daerah.

Terpanggil Untuk itulah, Lemhannas sebagai lembaga yang memiliki visi menjadi lembaga yang berkualitas, kredibel, dan berkelas dunia dalam bidang ketahanan nasional, juga terpanggil untuk turut berpartisipasi dalam penguatan pendidikan karakter.

Apalagi dalam menerjemahkan visinya sebagai lembaga berkualitas, Lemhannas merupakan lembaga pencetak kader dan pemimpin nasional serta komponen bangsa yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan pembangunan disertai keunggulan dalam inovasi, kreativitas, integritas, dan etos kerja sumber daya manusia untuk mewujudkan kemandirian bangsa dalam rangka menjaga ketahanan nasional.

Selain itu menjadi lembaga pencetak kader dan pimpinan nasional serta komponen bangsa yang memiliki kredibilitas dalam membangun karakter bangsa yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan dan falsafah Pancasila.

Lemhannas juga menjadi lembaga yang mencetak kader dan pimpinan serta komponen bangsa yang berdaya saing dan berperan penting dalam pergaulan dunia internasional dengan kemampuan diplomasi dalam rangka memperjuangkan kepentingan nasional serta mendorong terwujudnya kerja sama internasional, regional, dan bilateral dalam bidang ketahanan nasional.

Terkait dengan penguatan pendidikan karakter, Lemhannas pada 16 November 2017 mengagendakan seminar nasional “Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Sistem Pendidikan Guna Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional”.

Seminar nasional yang merupakan sumbangsih dari peserta PPSA (Program Pendidikan Singkat Angkatan) XXI-2017 Lemhannas yang ikut bertanggung jawab terhadap generasi mendatang terkait dengan arus nilai-nilai ideologi lain akibat dari globalisasi, dengan tantangan yang lebih besar dan berat.

Terkait dengan penguatan pendidikan karakter, sebagaimana pernah digambarkan oleh Sekretaris Utama Lemhannas Arif Wachjunadi yang juga Ketua Senat Peserta PPSA XXI-2017, bahwa anak-anak membutuhkan Pancasila yang implementatif, dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Para pendidik juga harus berjiwa Pancasilais sebelum mendidik anak-anak. Aktualisasi nilai-nilai Pancasila untuk anak-anak tidak tercapai apabila para pendidiknya tidak memberi contoh jiwa Pancasilais.

Dicontohkan bahwa jika sejak dini ditanamkan Pancasila membangun persahabatan dengan semua orang tanpa diskriminasi, tanpa membeda-bedakan suku, agama, rasa, atau strata sosial, mereka akan menjadi generasi yang pluralis, yang menghargai kesetaraan, kemajemukan, dan juga kebersamaan.

Cara yang lain antara lain adalah pemilihan ketua kelas dengan cara musyarawah, jambore nasional anak-anak dari berbagai daerah, atau gerakan antikorupsi dengan berdisplin waktu.

Karya dan pengalaman nyata anak-anak tentang nilai-nilai Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, serta UUD NRI 1945, akan membekas dalam pertumbuhan hidup mereka. Dengan demikian penguatan pendidikan karakter juga dapat menghasilkan generasi yang tangguh dan bermoral.

Tampaknya menggelorakan penguatan pendidikan karakter menjadi sebuah keniscayaan dan Lemhannas memiliki peran strategis untuk melakukannya.

Kedeputian Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan Lemhannas beberapa waktu lalu di Bandung juga telah menyelenggarakan pelatihan untuk pelatih (ToT) bagi para guru, dosen, dan widyaiswara sebagai upaya untuk memantapkan nilai-nilai kebangsaan bagi para pendidik di daerah. Pelatihan itu meningkatkan kemampuan mengelola keahlian, keterampilan, dan wawasan yang berkaitan dengan nilai-nilai kebangsaan serta menjadi fasilitator yang andal.

Penyelenggaran pelatihan untuk pelatih itu dimaksudkan sebagai pengawal dan sekaligus penunjuk arah terkait dengan upaya untuk mewujudkan proses pembelajaran yang berkarakter kebangsaan.

Dengan menggelorakan penguatan pendidikan karakter sekaligus untuk mempertahankan karakter Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya, menjunjung tinggi akhlak mulia, nilai-nilai luhur, kearifan, dan budi pekerti.

Penguatan pendidikan karakter dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Untuk itu penguatan pendidikan karakter merupakan keniscayaan dan menggelorakannya merupakan kewajiban bersama sebagai sesama warga bangsa. (ara/ant)

Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: