Menguak Makam Leluhur di Belakang Hotel Ratu & Resort (1)

0
Salah satu makam yang kini masih berada di areal Ratu Hotel & Resort
Salah satu makam yang kini masih berada di areal Ratu Hotel & Resort. (Andes/Seru Jambi)

Adanya makam atau kuburan di Kawasan Ratu Hotel & Resort memang sudah menjadi rahasia umum di Kota Jambi. Tapi, tidak banyak yang tahu adanya polemik berkepanjangan di balik nisan-nisan yang masih terpancang di sana.

Perlandes Tutu Haryono

Thabroni Ismail dan Kamaluddin Usman, kini sudah renta. Thabroni berumur 75 tahun. Sementara, Kamaluddin genap berusia 68 tahun. Meski sepuh, semangat kedua kakek ini, bak api yang berkobar, siap membakar. Apalagi, ketika Seru Jambi, menanyakan perihal makam yang ada di Kawasan Ratu & Resort.
Kediamanan Kamaluddin, hanya berjarak beberapa puluh meter dari Ratu Hotel & Resort, yang ada di Jalan Slamet Riyadi, atau Kawasan Broni, Kota Jambi. Duduk santai di teras rumah, menggunakan kaos dan kain sarung. Thabroni juga terlihat sama, hanya beda menggunakan baju koko, seperti baru pulang dari masjid. Begitulah gambaran kedua kakek ini sehari-hari.
Tapi siapa sangka, kalau ke dua kakek ini adalah dulunya adalah orang yang paling vocal menentang penggusuran ratusan pemakaman, yang kini berdiri megah hotel berbintang.
Thabroni mengatakan, hanya satu alasan niatnya menolak penggusuran makam dari puluhan tahun yang lalu. Yaitu, menjaga dan mempertahankan makam leluhurnya.
“Kami orang sebrang, asli Jambi, sangat menjaga adat istiadat. Khususnya adat kepada leluhur,” ujar Thabroni, membuka awal perbincangan.
Dia menerawang ke belakang, mencoba mengingat kembali, sejarah tanah pemakaman bisa menjadi hotel seperti yang ada saat ini. Katanya, sekitar tahun 1960 tanah di sekitar areal makam di kepada Pemda. Tapi, ada perjanjian yang menuliskan bahwa areal makam tidak akan diganggu.
“Kubur itu berbatas dengan tanah Pemda, dengan dasar IB 151,” ujar Thabroni, yang diamini Kamaluddin.
Kemudian, Thabroni kembali menceritakan pada 1970an, Pemda membangun Kebun Binatang di areal itu, namun tidak mengundang minat masyarakat, sepi. Binatang-binatang yang ada dipindah ke Kawasan Palmerah.
“Hingga dibangunnya Balai Pemuda sebelum Ratu, itu kuburan masih berjumlah ratusan jumlah di situ,” ungkap Thabroni.
Wacana penggusuran mulai muncul pada tahun 1990an. Gantian Kamaluddin bercerita. Saat itu, Provinsi Jambi dikomandoi Gubernur Abdurahman Sayuti. Pemda mendapat investor dan akan menyerahkan tanah di sekitar areal itu menjadi hotel berbintang.
“Saat itu kami menolak keras, kami memegang adat. Hotel tentu lekat dengan maksiat, dan kubur orang tua kami berada disitu, kami protes,” ujarnya.
Tak lama, muncul lagi wacana penggusuran makam. Kamaluddin mengungkapkan, saat ini seluruh masyarakat sebrang berang dan melakukan protes keras. Tapi, pemerintah melakukan loby di kelompoknya dengan menggunakan kekuasaan.
“Perpecahan pun terjadi, ada sebagian yang menerima ganti rugi sebesar Rp 75 ribu permakam dan bersedia dipindahkan ke TPU Putri Ayu. Tapi saya dan Thabroni, tetap tidak ingin penggusuran dilakukan,” ujarnya.
Protes terus dilakukan, timpal Thabroni. Dia bersama beberapa warga mengirimkan surat terbuka, mulai kepada Gubernur, Menteri Dalam Negeri, hingga kepada Presiden yang saat itu masih dijabat Soeharto dan wakilnya Tri Soetrisno.
“Kirim surat ke Abdurahman Sayuti, 18 januari 1993, Surat ke Mendagri Yogi Suadi Memet tahun 30 juli 1993, ke Media Pimpinan Republika 1 Desember 1993, hingga ke Presiden Soeharto pada 10 Desember 1993 bahkan setelah itu kita kirim surat ke Mahkamah Agung pada 15 Desember,” sebut Thabroni.
Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: