Modernisasi Menjadi Keniscayaan Usaha Sapi Perah

0
Ilustrasi Sapi Perah. Foto: Istimewa

SERUNESIA.COM, Jakarta, (21/9) – Melihat apa yang dilakukan peternak sapi perah di Australia, Selandia Baru, dan Belanda menjadi bukti bahwa modernisasi peralatan dan teknologi informasi merupakan sebuah keniscayaan untuk mencapai tingkat efisiensi usaha serta meningkatkan produksi dan kualitas susu.

Peternak sudah tidak lagi kumuh karena sesedikit mungkin bersentuhan dengan kotoran sapi dan kandang juga terlihat lebih higienis.

Selain itu, yang terpenting susu lebih terjamin dari kontaminasi bakteri karena dari puting sapi susu mengalir melalui mesin perah ke saluran pipa stainless ke tangki pendingin. Transportasi dari ruang penyimpanan ke unit pengolahan susu juga menggunakan mesin pendingin untuk mencegah kerusakan susu.

Mekanisasi alat membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, mulai dari memanen hijauan, memotong, hingga ke tempat penyimpanan atau memberikan langsung pada sapi.

Di Indonesia, potret modernisasi juga sudah diterapkan sejumlah peternakan besar dan juga bisa dilihat di farm ternak sapi perah hasil kerjasama Koperasi Susu Bandung Selatan (KPBS) dengan PT Ultrajaya di Pangalengan.

Lokasi peternakannya di Dusun Cieurih, Desa Marga Mekar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung dengan ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut.

Saat ini sudah ada sekitar 4.000 ekor populasi sapi milik PT UPBS, perusahaan patungan antara Ultra Jaya dan KPBS.

Menurut Ketua KPBS Aun Gunawan, lahan yang digunakan merupakan milik KPBS, sementara Ultra Jaya membangun sarana modern beserta ternak sapi perah unggulan yang mempunyai produksi antara 30 dan 40 liter per hari.

Tangki-tangki untuk menyetor susu dari kandang UPBS ke pabrik di Padalarang menggunakan tangki milik KPBS. Sebagai imbasnya susu segar dari para peternak anggota KPBS hampir 70 persen diterima Ultra Jaya.

Ini potret peternakan ideal, ini juga dambaan semua peternak sehingga usaha ini tidak dipandang sebelah mata, katanya.

Budi daya juga dilaksanakan dengan pencatatan keturunan, riwayat kesehatan dan performa sejak lahir sampai masa laktasi.

Pemerahan Pemerahan dilakukan dengan mesin yang disebut milking parlour. Mesin itu dibuat terbuka dan sapi-sapi sudah terlatih memasuki ruang pemerahan.

Susu yang diperah langsung disalurkan ke pipa yang berhubungan langsung dengan lempeng-lempeng pendingin, lalu dialirkan ke tangki penyimpanan.

Dengan demikian, susu yang disimpan sudah dalam keadaan dingin memghambat pertumbuhan mokroba perusak.

Manajemen pengelolaan pakan sudah menggunakan peralatan mesin yang membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan effisien.

Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat yang proporsinya disesuaikan dengan produksi susu sapi, apalagi setiap kandang diisi sapi dengan masa lakstasi yang berbeda.

Hijauan yang diberikan, antara lain, rumput gajah dan daun jagung. Setelah hijauan dicacah dengan mesin copper kemudian ada yang langsung diberikan atau disimpan dengan fermentasi kedap udara agar bisa digunakan saat musim kemarau.

Rekam Jejak Di sejumlah negara yang maju dalam bidang peternakan juga mewajibkan semua peternak untuk mencatat silsilah dan rekam jejak setiap ternak untuk proses pemuliabiakan.

Menurut Kabag Umum Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBTU-HPT) Baturraden Bagong Kusminandar, pencatatan rekam jejak setiap sapi perah sangat dibutuhkan untuk mengetahui bibit unggul dan bibit menjadi faktor yang menentukan keberhasilan usaha peternakan.

Mencatat setiap produksi bukan pekerjaan sia-sia karena data akan berguna bagi penjaringan seleksi bibit unggul.

BBTU-HPT Baturraden mulai mewajibkan peternak yang membeli dari balai itu melaksanakan pencacatan produksi susu untuk memudahkan seleksi bibit di kawasan peternakan itu sekaligus bahan evaluasi hasil pembibitan di Baturraden.

Di perusahaan peternakan sapi terkemuka, seperti Fonterra di Selandia Baru dan Frisian Flag di Belanda, mencatat rekam jejak ternak, bahkan sudah secara digital. Di setiap telinga sapi tertempel kartu barkode yang sudah masuk database.

Menurut Sekretaris KPBS Adang Shalahudin yang pernah mengunjungi peternakan besar di Belanda, database ternak sudah memuat tanggal lahir, bobot lahir, nama induk, produksi susu, riwayat penyakit, dan kemampuan reproduksinya.

Jika sapi masuk kandang pemerahan, alat rekam akan mendeteksi barkode dan alat pencatat produksi susu akan mengirimkan data produksi ke database. Bahkan, ada juga yang langsung menghitung kebutuhan konsentrat yang dibutuhkan ternak itu.

Jadi, menurut Adang, sapi diperah sambil memakan konsentrat yang jumlahnya diseuaikan dengan tingkat produksi susunya. Hal ini menghindari pemborosan pakan.

KPBS mulai melakukan modernisasi dengan membangun tujuh milk collecting point (MCP) yang modern untuk menjamin terjaganya kualitas susu dan melakukan pemantauan produksi susu dari peternak secara digital di MCP itu.

Susu segar yang masuk ditimbang secara digital yang datanya masuk sebagai data produksi peternak. Sampel diambil secara acak empat kali dalam waktu 15 hari untuk pengujian kualitas susu dan data hasil uji masuk database. Hasil uji kualitas itu menentukan harga susu. Jadi, dalam database KPBS sudah tercatat produksi susu dan kualitas susu masing-masing peternak.

Dari database itu, bisa juga untuk seleksi mencari bibit unggul ternak sapi antaranggota koperasi.

Mesin Perah Sejumlah peternak juga sudah menyadari pentingnya penggunaan mesin perah karena menekan biaya pemerahan, menjaga susu terhindar kontaminasi bakteri di kandang, waktu pemerahan lebih cepat, dan memudahkan pencatatan produksi tiap sapi.

Adang yang mempunyai 30 sapi perah hanya perlu satu tenaga pemerah. Karena tanpa alat, diperlukan dua pemerah.

Demikian pula yang diterapkan Dedi Rahmat, peternak sapi dari parompong, Kabupaten Bandung Barat.

Saat ini dia mempunyai 50 ekor sapi yang pemerahannya cukup dilakukan seorang pekerja dengan bantuan mesin perah portabel.

Ia bahkan sudah membeli mesin perah model parlour skala 14 mesin perah yang dilengkapi pipa penyaluran susu segar langsung ke tangki pendingin. Alat itu diimpor dari Turki seharga Rp450 juta dengan jaminan suku cadang.

Mesin itu disiapkan Dedi yang akan menambah populasi ternak sampai 200 ekor.”Waktu pemerahan dengan alat cukup 2,5 jam dan satu tenaga kerja.

Dedi bercerita pernah mempunyai 300 ekor sapi dengan tenaga kerja 22 orang. Namun, dengan pola kandang komunal dan mesin milk parlor, dari 200 ternak perah cukup tenaga kerja yang terlibat hanya enam orang.

Ia mengusulkan semua peternak skala kecil untuk bergabung sehingga bisa diterapkan kandang komunal dan bisa dilakukan modernisasi pemeliharaan.

Modernisasi menjadi sebuah keniscayaan dalam usaha peternakan susu seperti yang pernah dilakukan peternak susu di Selandia Baru.

Kondisi peternakan rakyat di Indonesia saat ini mirip kondisi peternakan rakyat di Selandia Baru, 100 tahun lalu. Namun, peternak kemudian menyadari untuk berubah, membentuk koperasi Fonterra, dan melakukan modernisasi pengelolaan usaha sehingga saat ini menjadi negara pengekspor susu ketiga terbesar di dunia. (ara/ant)

Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: