Mutu Karet Sarolangun Rendah

0
Salah satu gudang karet yang ada di sarolangun
SERUJAMBI.COM, Sarolangun – Salah satu masalah utama yang terjadi dalam pengolahan karet di tingkat Petani Kabupaten Sarolangun adalah masih rendahnya mutu bokar (bahan olahan karet), dimana kadar karet kering (KK) bokar yang dihasilkan oleh petani di kabupaten sarolangun hanya berkisar 50-55 persen.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun, Joko Susilo, kemarin (06/09), mengatakan, perlu upaya peningkatan mutu bokar yang dihasilkan oleh para petani, sehingga penghasilan petani bias meningkat.
Kata joko rendahnya mutu bokar ini diakibatkan petani karet menggunakan bahan penggumpal (koagulan) lateks yang kurang baik, serta kebiasaan merendam bokar di dalam kolam/sungai selama 7-14 hari. Hal ini memicu berkembangnya bakteri perusak antioksidan alami di dalam bokar, sehingga nilai plastisitas awal (Po) dan plastisitas setelah dipanaskan selama 30 menit pada suhu 140 °C  mengakibatkan (Pri) menjadi rendah. “Cara ini tidak baik, maka harus dirubah agar mutu bokar juga meningkat,”ujarnya.
Joko, mengambarkan, saat ini harga Bokar dengan KK seratus persen masih dalam kisaran 20 ribu rupiah, degan demikian seharusnya jika bokar yang dihasilkan petani berkualitas, dengan KK yang bisa mencapai 80 persen, maka harga karet di tingkat petani tidak pecah dai 10 ribu rupiah. “Meski harga rendah, klo berkualitas kan tetap terbilang tinggi, bayangkan jika bokar para petani sarolangun bisa mencapai 80 persen, berarti harga tetap tidak kurang dari 10 ribu rupiah,”sebutnya.
Dia menambahkan, untuk meningkatkan mutu bokar para petani, maka pihak Dinas TPHP  Sarolangun, akan mengefektifkan PPL  agar menyampaikan informasi yang baik dan benar dalam pengolahan karet. “Kita minta para petani menggunakan pengumpal karet yang dianjurkan, tidak merendam karet, serta tidak memasukan bahan bahan yang merusak mutu  bokar seperti tatal atau bahan lain,”kata Joko Susilo.
Lebih jauh, Joko Susilo, mengatakan, memang sudah saatnya petani mulai berpikir efektif, sebab kualitas hasil pertanian juga akan sangat berpengaruh dengan harga jual. “Andai saat ini kualitas bokar kita sudah cukup baik, petani tidak akan terlalu jadi korban permainan harga, serta tidak akan terlalu dirugika meski harga internasional turun,”pungkasnya. (uis/mui)
Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: