OPINI: Gadget Bukan Segalanya

0
Firnandar Syahputra
Oleh: Firnandar Syahputra*
SERUJAMBI.COM – Saat ini kita berada di tengah zaman yang begitu modern, zaman di mana para ahli menyebutnya dengan kata milenial, zaman di mana semuanya serba modern, termasuk dalam hal perkembangan inovasi teknologi yang ikut termodernisasi, yang tanpa sadar teknologi mengubah perilaku manusia. Perkembangan inovasi teknologi yang semakin maju, membuat manusia sangat  mengandalkan sebuah teknologi yang sangat umum, yaitu smartphone.
Terutama pada generasi muda sekarang, tidak mungkin lepas dari media sosial yang bisa diakses kapan dan di manapun dengan mudah. Tanpa sadar, ini telah membuat sesorang menjadi lupa akan tujuan utama di dalam hidupnya.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Albert Einstein dalam ketakutannya akan perkembangan teknologi,“I fear the day technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.” (Saya takut pada hari dimana teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot).  Dan ketakutannya pun seakan menjadi kenyataan, saat banyak orang menganggap bahwa media yang disebut sosial ini adalah segalanya, menganggap pembicaaran adalah mengetik dan mengobrol adalah membaca. Di mana mereka selalu menghabiskan waktu bersama tanpa saling bertatap mata.  Membalas chat, mengecek media sosial, foto selfie atau mengedit foto menjadi hal yang dilakukan berulang-ulang lewat ponsel cerdas tersebut.  Ketika mereka sibuk dengan membuka layar samrtphone di mana pun berada, pada saat itulah mereka sebenarnya telah menutup pintu sebagai mahkluk sosial yang seharusnya saling berinteraksi secara nyata. Bukan saling diam, dan menjadi anti sosial karena sibuk menatap layar dan berinteraksi dengan media sosial, kehilangan privasi karena over update status dan sharing yang berlebihan mulai dari kehidupan, aktivitas sampai masalah yang ada di diri seolah semua orang harus tahu.
Mencurahkan segalanya di media sosial, rela meluangkan waktu untuk berfoto lebih dari berkali-kali dengan pose yang sama hanya untuk mendapatkan satu foto yang sangat pas untuk diunggah di media sosial, malah sebelum pengunggahan telah melalui proses editing camera 360 dan VSCOcam. Lalu berpikir keras merangkai kata hanya untuk dijadikan caption agar orang lain menganggap keindahan kosa kata yang setara dengan Raden Adjeng Kartini -yang menumpahkan keluh kesahnya tentang feodalisme melalui surat-surat untuk sahabat-sahabatnya-.
Tanpa disadari, ada jutaan silent reader yang mengamati kehidupan yang membingungkan itu lewat cara ini. Mereka selalu membanggakan diri dan mengharapkan pujian dan like jempol dari setiap orang dimedia sosial, karena tanda jempol dan love sudah menjadi candu di dalam diri seperti para pecandu narkoba yang sulit lepas dari candunya.  Mereka pura-pura tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya telah jauh terasing secara sosial. Mereka selalu berusaha untuk merangkai kata hingga terlihat hidup yang tercermin indah tanpa memahami apakah ada yang peduli. Saat menunggu di halte, antrian yang padat, dan di keramaian lainnya, di mana tak seorangpun ingin berbicara dan enggan untuk memulai karena takut dianggap aneh dan kembali melewati waktu dengan terus menatap layar. Bahkan ketika pergi ke toilet sekalipun, sebagian dari mereka tidak pernah lupa membawa ponsel kesayangannya.
Sebenarnya, perilaku itulah yang seharusnya dianggap aneh dan membingungkan. Mereka menjadi manusia anti sosial, bila tidak lagi terpuaskan dengan hubungan antar manusia dan saling bertatap mata. Terlalu sibuk menunduk ke bawah dan menganggap smartphone adalah kehidupan, sehingga mereka lebih banyak diam dan berkicau di media sosial.
Terlihat menyenangkan, namun sebenarnya sikap tersebut sudah ke luar dari nilai dan norma masyarakat pada umumnya. Mereka dikelilingi oleh anak-anak yang sejak lahir dan dibesarkan dengan melihat mereka hidup seperti robot berjalan, dan mereka menganggap itu adalah hal yang normal, bahkan mereka menganggap hal itu adalah budaya yang menyenangkan.
Maka tidak heran ketika melihat anak-anak di usia yang relatif masih balita, sudah mengenal smartphone dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi generasi bodoh yang terinspirasi dari apa yang dilihatnya sehari-hari. Untuk menjadi orang tua hebatpun sudah terasa asing , karena banyak orang tidak bisa menghibur anak tanpa menggunakan smartphone dan tablet.
Sepertinya sudah biasa bagi kebanyakan orangtua untuk membiarkan anak-anak mereka bermain dengan perangkat teknologi mereka. Betapa banyak orangtua menggunakan gadget seperti smartphone dan tablet sebagai alat pengasuh anak mereka. Meskipun mungkin mengenalkan teknologi kepada anak merupakan ide yang bagus, namun ada hal yang terlupakan bahwa tidak ada yang bisa menggantikan interaksi sesama individu, terutama interaksi bersama anak.
Menurut Mandy Saligari, seorang ahli rehabilitasi di Harley Street London mengungkapkan, para orangtua harus lebih memperhatikan kebiasaan anak-anak mereka dalam bermain. Beliau selalu mengingatkan kepada orangtua bahwa memberi anak-anak tablet atau smartphone sama dengan memberi mereka sebotol anggur. Karena berdasarkan penelitian, pola otak yang ditimbulkan oleh kecanduan smartphone sama halnya dengan pola otak yang ditemukan pada pecandu narkoba.
Mulai sekarang, marilah belajar untuk mengalihkan perhatian yang selalu mengutamakan kehidupan didalam sebuah layar smartphone. Bagilah waktu untuk kehidupan yang nyata, menghidupkan lingkungan disekitar, menciptakan hari yang indah bersama keluarga, anak, sahabat. Ciptakanlah hubungan yang nyata, karena dalam hidup, hanya itu yang dibutuhkan untuk menunjukkan perbedaan yang diciptakan oleh kehadiran.(***)
* Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Jambi
Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: