OPINI: Guru: Role Model yang Menggerakkan

0
Oleh: Uun Lionar
SERUJAMBI.COM – Guru sebagai pembelajar sepanjang hayat (long life education) haruslah berupaya secara berkelanjutan mengasah kemampuan untuk menghasilkan karya, terutama berkenaan dengan usaha menyajikan gagasan dalam bentuk karya tulis, melalui karyalah guru dapat dikatakan sebagai guru hebat yang menginspirasi, menggerakkan, dan melahirkan ribuan orang hebat.
Di era millennial peran guru tidak hanya sekadar memenuhi kompetensi yang disaratkan oleh Undang-undang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005, seperti kemampuan pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Namun, lebih dari itu guru juga dihadapkan pada tantangan global abad 21. Binklay (2012) dalam Assessment and Teaching of 21st Century Skills mengatakan bahwa salah satu kecakapan skill yang disyaratkan adalah kecerdasan dalam hal Information and Communication Technology (ICT) Literacy Skill. Hal ini berarti guru dituntut untuk terampil memanfaatkan teknologi informasi sebagai alat untuk memperkaya literasi, melalui keterampilan ini guru dapat mengakses berbagai informasi melalui pemanfaatan teknologi internet untuk mendapatkan sumber dan bahan belajar siswa.
Abad 21 selain mensyaratkan penguasaan pada ICT juga menuntut guru untuk kreatif (creative) dan inovatif (innovative), keberadaan guru tidak sekedar hanya tahu dan pintar dalam bidang yang dikuasainya namun memiliki pemahaman luas lintas keilmuan, seperti yang dikatakan Merryfield (1997) dalam Preparing Teacher to Teach Global Perspectives bahwa guru mesti memiliki pemahaman konseptual yang luas mengenai beragam keilmuan, pemahaman tersebut kemudian dapat diimplementasikan dalam keterampilan pedagogis praktis. Melalui tuntutan demikian diharapkan guru tidak hanya bertumpu pada bagaimana melaksanakan pendidikan di ruang kelas dengan segala macam model pembelajaran, melainkan juga akan berpandangan keluar mengenai pendidikan dalam perspektif global.
Salah satu bentuk kreatifitas dan inovasi seorang guru di abad 21 dapat berupa karya tulis yang dihasilkannya, baik berbentuk paper ilmiah maupun tulisan di media massa. Karya tulis tersebut akan mempertegas profesionalisme guru yang bukan hanya sekadar dapat mendidik siswa di sekolah melainkan juga mendidik masyarakat luas, seperti kata orang bijak bahwa “guru mulia karena karya”. Oleh sebab itu, orientasi guru di abad ini harus dikukuhkan melalui berbagai ide dan gagasan yang tertuang dalam bentuk karya tulis.
Saat ini sudah seharusnya orientasi guru berubah dari yang hanya sebatas “tukang ngajar” di kelas menjadi guru produktif yang “berbuah karya”, upaya-upaya demikian agar guru terhindar dari stigma negatif dengan anggapan sebagai guru “pohon pisang” yang hanya “membuahkan” karya tulis satu kali seumur hidup berupa skripsi untuk mendapatkan ijazah gelar sarjana, kemudian tak berbuah lagi ,“layu”, dan “mati”. Kita layak cemas jika mind set seorang calon guru yang sedang membekali diri di perguruan tinggi masih hanya berkutat pada strategi mengajar di kelas, secara normatif hal demikian tidaklah salah karena akan memperkuat kemampuan pedagogik, akan tetapi di tengah penguatan gerakan literasi saat ini sudah sewajarnya guru hadir sebagai pelopor terdepan gerakan tersebut melalui berbagai karya tulis yang terpublikasi dan dapat diakses oleh masyarakat luas. Dengan demikian, eksistensi sebagai guru tetap terdepan dalam menghadapi zaman yang berubah.
Peran Strategis
Peran guru idealnya bukan sekadar teladan (panutan) bagi siswa dan masyarakat luas. Kalimat yang hingga kini masih populer dalam dunia pendidikan Indonesia ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi kekuatan) sejatinya juga mempertegas peran guru sebagai “lokomotif zaman”, yang berarti akan mengantarkan anak zaman menuju tujuan mulia yakni tentang imagined community yang dicita-citakan bersama.
Menjadi “lokomotif” peran guru sangat strategis sebagai penggerak yang akan menentukan cepat atau lambatnya laju sebuah generasi bangsa dalam menghadapi persaingan global, bahkan jikalau lokomotif berjalan dengan lamban hal yang dimungkinkan akan terjadi adalah melemahnya daya saing bangsa hingga berlarut pada keterpurukan.
Sejarah telah membuktikan ketika kota Nagasaki dan Hirosima dibom oleh tentara sekutu pada bulan Agustus 1945, negara Jepang lumpuh total, jutaan orang meninggal, hingga membuat negara ini harus menyerah pada sekutu. Dalam keadaan darurat Kaisar Jepang Hirohito tidak menanyakan berapa jumlah pasukan tentara yang tersisa, ia malah menanyakan berapa banyak guru yang masih hidup. Hingga sekarang Jepang pun kembali tumbuh sebagai negara maju di kawasan Asia bahkan dunia.
Pertanyaan kaisar di atas sejatinya masih relevan dalam konteks kekinian untuk merefleksikan betapa strategisnya peran guru sebagai “modal” penting bagi suatu bangsa, tidak terkecuali Indonesia yang lebih-lebih diprediksikan akan mendapat bonus demografi pada 20-30 tahun kedepan atas mayoritas penduduk yang berusia produktif, pada posisi ini guru akan sangat berperan sebagai katalisator perubahan, maka tak heran Anies Baswedan suatu ketika mengatakan “kekayaan sebuah bangsa bukan terletak pada sumber daya alamnya, melainkan pada manusianya” yang di dalamnya juga termasuk sumber daya guru.
Menuju Imagined Community
    Kita masih ingat studi dari Most Littered Nation in the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, penelitian ini menerangkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara soal minat membaca. Sementara itu, Program for International Students Assessment (PISA) pada akhir tahun 2016 melansir indeks literasi membaca siswa Indonesia yang hanya naik satu poin: 396 pada 2012 dan 397 pada 2015.
Hasil survey di atas menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal dalam hal literasi, walau survey dilakukan pada siswa akan tetapi hal ini secara implisit juga menjelaskan keberadaan guru yang belum optimal sebagai katalisator penggerak budaya literasi tersebut. Namun, terkait masalah ini kita tidak dapat menyalahkan guru secara totalitas, mengingat ada kompleksitas masalah yang perlu ditinjau dan diselesaikan mulai dari “akar” hingga “pucuk” dari “batang tubuh” penyelenggara pendidikan.
Agar ketertinggalan tersebut tidak berlarut, penting bagi guru untuk menggerakkan budaya literasi, mengingat perannya sebagai role model maka guru pun harus menjadi contoh dari praktek-praktek tersebut, yakni berupaya tampil sebagai guru otentik yang menggerakkan siswa-siswa untuk terbiasa dekat dengan tradisi membaca dan menulis.
Menjadi guru penulis secara tidak langsung akan menjadi guru yang gemar membaca, karena karya tulis yang dihasilkan adalah wujud representasi dari kedalam penguasaan bahan bacaan. Sejatinya tidak akan mungkin lahir generasi cerdas literasi dari tangan guru yang masih tergolong sebagai guru “pohon pisang”. Oleh sebab itu, tradisi membaca dan menulis haruslah digalakkan oleh guru sebagai kebiasaan bahkan hobi, sehingga guru saat ini hadir bukan hanya sebagai teladan di sekolah, melainkan juga “lokomotif zaman” yang menggerakkan masyarakat menuju imagined community. Selamat Hari Guru Nasional. Jaya Guru Indonesia. (***)
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia,
Bandung Awardee Beasiswa LPDP RI
Loading Facebook Comments ...