OPINI: Memilih Walikota Jambi

0
Oleh: Kemas M Intizham
Beberapa waktu ini saya hanya fokus bahas Pilkada di luar tempat tinggal saya, Jambi. Saya mulai merasa sedikit berdosa karena tidak mengomentari kota sendiri. Memang belakangan semua mata tertuju ke Jakarta. Setiap orang membicarakannya. Sampai-sampai lupa bahwa di tempatnya sendiri juga ada hajatan yang sama.
Sebentar lagi Kota Jambi akan memilih Walikota. Ada banyak nama yang sudah masuk bursa pencalonan. Di antaranya adalah Walikota sekarang yang kembali maju dan Wakil Walikota yang juga maju mencalonkan diri sebagai Walikota. Nama-mana baru seperti; dr Maulana, Kemas Al-Farizi Arsyad, dan Zumi Laza Zulkifli ikut meramaikan kontestasi menuju kursi nomor satu di Kota Jambi. Setidaknya, baru ketiga nama itulah yang paling serius selain Fasya dan Sani.
Sudah menjadi konsumsi publik bahwa kedua petahana di Kota Jambi itu akan pecah kongsi. Keduanya sama-sama maju untuk mencalonkan diri sebagai Walikota. Keduanya hanya tinggal menentukan siapa wakilnya saja. Nama-nama yang telah disebut di atas bisa saja maju sebagai wakil dari kedua petahana. Atau mereka tetap ngotot mendaftar diri sebagai Walikota dan ikut bersaing. Semua masih kabur.
Rekam jejak kedua petahana sepertinya tak perlu diperjelas lagi. Masyarakat Kota Jambi bisa menyimpulkan sendiri kualitas keduanya. Masa lima tahun pemerintahan keduanya bisa dijadikan tolok-ukur masyarakat dalam menilai keduanya. Program-program dan janji politik apa saja yang telah dan belum diselesaikan masa pemerintahan Fasya-Sani.
Nama-nama baru yang muncul pada kontestasi Pilwako Jambi kali ini sepertinya menarik untuk diulas. Mencari tahu rekam jejak mereka sangat perlu untuk dilakukan. Dari kacamata subjektif, sebelum masa pemilu ini, saya sama sekali tidak mengenal mereka. Saya baru tahu nama dan wajah mereka lewat baliho-baliho yang memenuhi penggiran Kota. Selebihnya, saya tidak tahu.
Berbekal kuota internet yang sudah hampir habis, saya mencoba mencari tahu profil ketiga nama yang saya sebut di atas. Hanya ada sedikit informasi tentang ketiganya yang saya dapat lewat internet. Dr. Maulana memang disebut sudah banyak melakukan kegiatan sosial selama ini, tapi lagi-lagi tidak begitu didengar publik secara luas. Selain itu, nama Kemas Al-Farizi Arsyad juga belum begitu dikenal secara luas. Sementara ini, saya dan keluarga hanya mengenal bahwa ia adalah putra mantan Rektor Unja, Kemas Arsyad Somad.
Begitu juga dengan nama Zumi Laza Zulkifli. Ia baru saja diangkat menjadi Ketua DPD PAN Kota Jambi secara aklamasi. Lagi-lagi saya tidak begitu mengenalnya. Saya mengenalnya juga sebagai adik kandung dari Gubernur Jambi, Zumi Zola yang juga merupakan putra dari Mantan Gubernur Jambi dua periode, Zulkifli Nurdin.
Pada tahap ini, saya mengenal mereka baru lewat baliho. Selebihnya, saya tidak tahu apa-apa tentang mereka. Mungkin karena sayanya saja yang tidak banyak membaca informasi tentang keduanya. Namun, saya tahu banyak tentang profil calon Gubernur di Jawa Timur dan Jawa Barat. Menurut pendapat orang-orang, kedua daerah itu beruntung. Bahkan jika hanya pejam mata saja rakyat akan mendapatkan mutiara. Semua berkat kualitas dan rekam jejak dari calonnya yang telah teruji.
Dari sedikit uraian di atas, problem setiap calon –selain Fasya dan Sani, sama. Yaitu sama-sama belum dikenal secara luas oleh publik. Barangkali Fasya dan Sani terselamatkan karena mereka kebetulan adalah pejabat yang memimpin Kota Jambi selama lima tahun belakang ini.
Harapan penulis sebagai rakyat yang menginginkan pemimpin yang dapat membawa daerahnya maju adalah munculnya calon yang benar-benar telah teruji secara kualitas. Jelas visi dan misinya ke depan. Menawarkan program kerja yang berpihak kepada masyarakat.Semakin banyak orang hebat yang mencalonkan diri menjadi pemimpin tentu akan semakin baik untuk pilihan masyarakat. Masyarakat akan lebih dipermudah.
Dan terakhir, dalam beberapa waktu ke depan para calon Walikota dan Wakil Walikota Jambi bisa lebih mengenalkan diri kepada pemilih mereka. Menemui langsung dan mengajak pemilih berdiskusi tentang program ke depan. Sebab, tak semua orang lihat baliho mereka. Pun di baliho hanya ada nama dan foto mereka. Sebab, tak semua orang menonton televisi. Dan tak semua orang membuka internet. (***)
Penulis adalah  Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Loading Facebook Comments ...