OPINI Vera Sifiani: Tips Berhemat untuk Anak Kost

0
Vera Sofiani SE ME
Oleh: Vera Sofiani SE, ME*
Dulu semasa kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kota Yogya, yang selalu saya ingat adalah tanggal 5 di tiap bulannya. Karena di tiap tanggal 5 bisa dipastikan biaya hidup saya sudah terparkir dengan manisnya di rekening tabungan.
Prosedur pencairan uang di bank sekitar tahun 1987 tidaklah mudah, beda dengan zaman sekarang. Anak kost semasa saya dulu lebih bersabar dalam menunggu transferan uang, beda dengan anak masa kini. Tinggal telpon atau jika malas ditanya-tanya sebab akibat oleh orang tua, pasti mengajukan innocent proposal melalui WA atau SMS. Kecepatan WA, SMS atau sosmed lainnya lebih cepat dibanding zaman saya dulu melalui pos.
Waktu 5 (lima) tahun menjadi anak kost mengajarkan saya pada banyak hal. Antara lain ketabahan menahan kangen pada keluarga, ketabahan menanti datangnya tanggal 5, dan kecerdasan mengatur pos keuangan agar tidak melebihi jumlah dana yang terparkir di rekening tabungan.
Walaupun orang tua saya cukup mampu dari sisi ekonomi, namun dalam mengajarkan untuk hidup apa adanya (baca pas-pas an) pada anak-anaknya, saya rasa sangat cukup berhasil. Bagaimana berhasilnya?
Saya mengalami syndrome 10 hari, 10 hari pertama menyenangkan, 10 hari kedua menggelisahkan dan 10 hari terakhir keuangan di ujung tanduk. Kondisi ini melatih saya untuk cerdas menyisihkan uang ke dalam 5 amplop: amplop untuk makan, amplop transportasi, amplop belanja kebutuhan anak kost dan keperluan kuliah serta amplop biaya tak terduga serta amplop kosong.
Kenapa amplop kosong? Karena amplop ini sengaja dikosongkan untuk menyimpan sisa belanja makan atau belanja lainnya dan biasanya berupa uang recehan. Khusus amplop biaya tak terduga biasanya jika ada kiriman uang lebih dari biasanya, atau ada kunjungan keluarga yang menyelipkan sejumlah uang ketika mereka pulang. Jika ini terjadi maka bisa dibayangkan minimal 2 (dua) hari biaya makan saya tidak terpakai, istilah anak kost perbaikan gizi karena ada yang membayari.
Apakah keuangan saya menjadi sehat dengan keberadaan 5 (lima) amplop ini? Kadang gagal total di mana semua amplop tercampur akibat ada kebutuhan yang mesti dilakukan dan biasanya lebih bersifat entertain (hiburan), misalnya biaya nonton film midnight, show artis (karena saya penggemar berat chrisye dan Dewa 19). Kadang juga berhasil tapi dengan prosentase kemenangan saya melawan kegamangan hawa nafsu dengan derajat kelurusan nyaris 100 persen, dan ini cenderung sulit.
Situasi menentukan rumah makan yang dituju juga sangat amat berpengaruh secara signifikan terhadap perjalanan amplop-amplop saya. Jika saya memilih rumah makan A dengan menu 1 (satu) lauk sementara di harga yang sama saya dapat beralih pilhan pada Rumah Makan B dengan menu 2 (dua) lauk kadang ditambah segelas es jeruk atau minuman lainnya. Hal ini akan menentukan bahwa tingkat kecerdasan logika saya sedang diuji melawan kekuatan daya tarik selera. Apakah dijamin bergizi jika saya memilih Rumah Makan B? Buat anak kost pada umumnya dan khususnya dengan pola hidup apa adanya, gizi bukanlah hal yang mesti diperjuangkan. Perut kenyang itu yang dicari. Gizi akan berbanding lurus dengan pembiayaan. Semakin bergizi maka akan semakin tinggi nominal uang yang akan dikeluarkan.
Kenapa tidak masak sendiri untuk menghemat biaya? Dengan alasan klise dan cenderung sarkasme saya akan sampaikan bahwa jadual kuliah yang padat kadang membuat saya lupa mana panci mana wajan penggorengan. Dunia kuliah membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu di kampus entah itu memang mengikuti jam kuliah atau sekedar bersosialisasi dengan para punggawa organisasi kemahasiswaan yang saya ikuti. Dunia perkuliahan ini juga terkadang membuka berbagai peluang usaha yang dapat kita ikuti untuk menambah pemasukan yang disponsori oleh sesama teman kuliah.
Dari berjualan alat make up, assesories hingga handycraft yang dibuat oleh sesama mahasiswa. Dari yang menggunakan modal atau hanya mengandalkan titipan barang sudah saya jalani, dan hasilnya kadang berada di titik ekuilibrium (baca; impas) kadang untung. Mahasiswa jurusan ekonomi manajemen seperti saya pastinya menghindari faktor rugi karena jika terjadi ini akan menunjukan pertama kegagalan saya didalam mengimplementasikan ilmu ekonomi dalam kehidupan saya dan kedua bahwa teori itu terkadang tak seindah prakteknya.
Dari ilustrasi yang telah saya sampaikan diatas, bagaimana jika dibandingkan dengan saat ini? Pada prinsipnya, tiap anak kost memiliki domain yang cenderung homogen dari waktu ke waktu. Hal ini akan berubah tapi tidak berkurang indikatornya adalah jika dikaitkan dengan perkembangan zaman. Contohnya kemajuan teknologi, jika 2 (dua) dasawasa terakhir indikator penggunaan sarana komunikasi hanya bergantung pada telepon kabel hingga yang dibutuhkan adalah koin untuk melakukan sambungan pada telepon umum, maka saat ini uang bulanan untuk anak kost harus juga mengalokasikan sejumlah dana untuk pulsa dan paket kuota internet pada HP yang dipergunakan oleh ybs.
Pola hidup sehat bukan lagi menjadi pilihan hidup tapi sudah merupakan gaya hidup. Ilmu dan teknologi yang berkembang mempermudah para anak kost untuk melakukan diversifikasi menu makanan yang sehat dan harga terjangkau. Kemajuan ekonomi kreatif mengakibatkan banyak bermunculan kreativitas anak mahasiswa dan pelajar yang dapat dijual. Keunggulan kompetitif asal daerah dapat memacu minat para mahasiswa untuk mengenalkan hasil daerahnya dan berdampak pada sejumlah pesanan berdatangan dari daerah lain melalui mereka.
Peribahasa dunia tidak selebar daun kelor ternyata terbukti. Banyak keberhasilan para anak kost yang dimulai dari kamar kost mereka. Banyak keberuntungan berpihak pada sebagian dari mereka karena memiliki energi kreativitas yang tidak sedikit. Mungkin mereka kalah maju daripada anak-anak dengan modal kuat dari orang tuanya, tapi mereka punya beribu-ribu langkah untuk tetap bertahan ditengah industri hi tech. Inilah yang sebenarnya menjadi pondasi dari pembentukan karakter diri seorang anak muda. Berdasarkan penjelasan singkat diatas dapat saya rangkum apa sebenarnya yang dapat menjadi cara sehat dalam mengatur keuangan anak kost adalah sebagai berikut; menyusun anggaran kebutuhan rutin belanja periode 1 (satu) bulan; menabung di awal bulan, ingat teori 5 (lima) amplop yang telah saya utarakan diatas; Hemat paket kuota internet, usahakan mencari lokasi free Wi Fi apakah untuk mengerjakan tugas kuliah atau sekedar bersosialisasi di medsos; Perbanyak relasi, bisa jadi salah satu diantara yang dikenal itu akan menjadi pembuka pintu rezeki; Kenali wilayah sekitar tempat tinggal, ini untuk mempermudah mencari tempat makan murah, tempat foto copy murah dan jasa laundry yang ramah dengan isi kantong; Baik dengan semua penghuni kos, minimal kalau ada yang sama jurusan program kuliahnya bisa ikut memanfaatkan koleksi bukunya daripada harus membeli; Ramah dengan warga sekitar, ini bermanfaat jika ada undangan atau hajatan karena mereka akan dengan senang hati mengundang anak kost; Kreatif dalam mendaur ulang, contohnya dalam menggunakan kertas usahakan secara bolak- balik dan jika telah menumpuk kertas yang tidak dipergunakan lagi dapat dijual.
Bagi lelaki, jangan paksa untuk berpacaran jika keuangan terbatas karena menyenangkan hati perempuan cenderung menunjukkan trend tidak ada yang gratis; Yakinlah keterbatasan uang bukan dijadikan alasan untuk berlari ditempat, pergunakan otak dan alam bawah sadar kita untuk menggali potensi diri.
Jadi apa kesimpulan dari cerita ini? Nikmati hidupmu nak, karena waktu takkan pernah terulang. Manfaatkan intelektualmu, karena di luar sana banyak anak seusiamu yang lebih pintar tapi belum beruntung untuk menikmati bangku perkuliahan.
Keterbatasan finansial bukan halangan untuk maju, justru itu harus dijadikan sebagai motivasi. Karena sebuah peristiwa itu yang penting bagaimana berproses menerima dan menyesuaikan, selanjutnya biar Allah SWT yang akan mengatur kesimpulannya. Salam anak kost!(*)
*Penulis adalah pemerhati sosial Jambi                 
Loading Facebook Comments ...
loading...