Pintar Saja Belum Cukup

0
Ilustrasi. Foto: Istimewa

SERUJAMBI.COM – Ada tiga mahasiswa pintar di satu kampus. Mereka bersahabat. Malah, ketiganya satu indekos. Tiap hari ketiga mahasiswa ini melakoni aktivitas berbeda.

Mahasiswa A menghabiskan waktu dengan membaca diktat, buku dan artikel-artikel ilmiah di situs internet. Mahasiswa B, hari-harinya diisi dengan berorganisasi. Ia sibuk mengurus badan mahasiswa dan terlibat dengan lembaga swadaya masyarakat. Sedang C, sibuk di luar indekos dan kampus. C sama sekali tak mau terlibat dengan urusan organisasi apapun.

Meski sibuk dengan dunia masing-masing, namun ketiga sahabat ini tekun menjalani materi perkuliahan. Hingga akhirnya ketiganya diwisuda.

Di tahun pertama jadi sarjana, A melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. B mulai bekerja di perusahaan swasta berkat bantuan jaringan lembaga kemahasiswaan yang ia ikuti. Dan C, masih sibuk dengan dunianya.

Beberapa tahun kemudian, ketiga sahabat ini bertemu. A sudah jadi doktor, B kini jadi manajer dan C masih seperti dulu. A dan B sibuk menanyakan kondisi C yang misterius. Apa pekerjaannya, bagaimana ia hidup dan apa target hidupnya?

C membawa kedua sahabatnya ke pasar. Mereka berhenti di depan tiga rumah toko. Dan betapa kagetnya A dan B begitu tahu bahwa ketiga toko itu milik C, sahabat mereka yang jarang terlihat.

C mulai bercerita bagaimana ia merintis usahanya dari sejak kuliah. Pertama-tama, ia menjalani bisnis jual pulsa dan kuota ke mahasiswa-mahasiswa di kampus. Berikutnya ia mulai bekerja di sebuah toko ponsel.

Di sana, ia mempelajari banyak hal tentang ponsel. Mulai dari jenis-jenis, aksesoris hingga cara memperbaiki ponsel yang rusak. Di sela-sela itu, C terus mengikuti mata kuliah dengan mengatur jadwal kerja dan kuliah.

Begitu diwisuda, C langsung fokus usaha. Ia bekerjasama dengan bos lamanya untuk membuka cabang toko ponsel di pasar. Posisi C tak lagi menjadi bawahan, melainkan mitra dengan pola bagi hasil 70-30. 70 pemodal dan 30 si C.

Jalan setahun, C kembali membuka servis ponsel di sebelah toko ponsel. Ia mempekerjakan 10 teknisi. Karena teknisi banyak, waktu yang dibutuhkan untuk menyervis ponsel jadi cepat. Pelanggan senang. Akhirnya jasa servis ponsel milik C kebanjiran pelanggan.

Sukses membuka toko ponsel plus aksesoris dan jasa servis, C membuka lagi kedai kopi modern. Lokasinya di sebelah dua toko itu. Keberadaan kedai kopi ini melengkapi dua jenis usaha lain milik C.

Pelanggan yang sedang menyervis ponsel, bisa nongkrong dan ngopi sambil menunggu ponselnya siap diperbaiki. Begitu juga pelanggan toko ponsel. Tak mau lelah menunggu antrian, bisa ngopi di sebelah sambil dilayani karyawan si C. Si pelanggan di kedai kopi tetap dilayani untuk urusan jual beli ponsel maupun servis ponsel.

Dalam lima tahun, usaha C terus maju, hingga akhirnya ia membuka cabang sampai ke kabupaten-kabupaten dalam provinsi ini.

Begitu C menutup cerita, A dan B langsung takjub.

Begitulah. Jika mau sukses di bidang apapun, terutama wiraswasta, pertama-tama yang harus diketahui bahwa pintar saja belum cukup. Butuh usaha yang gigih dan mitra yang tepat untuk menjadikan langkah lebih cepat.(*)

Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: