Warga Terpaksa Pakai Kayu Bakar Tak Sanggup Beli Gas Subsidi

0
Santo pedagang pecal lele, yang mengeluhkan tingginya harga gas di kabupaten Bungo. Beberapa pedagang lain, sudah mulai beralih ke kayu bakar. Foto: Istimewa

MAHAL : Santo pedagang pecal lele, yang mengeluhkan tingginya harga gas di kabupaten Bungo. Beberapa pedagang lain, sudah mulai beralih ke kayu bakar.

SERUJAMBI.COM, MUARABUNGO – Sudah sejak enam bulan terakhir, masyarakat di Kabupaten Bungo, mulai beralih menggunakan kayu bakar. Hal ini terjadi, lantaran mahalnya harga gas subsidi di sana. Apalagi untuk pegadang rumah makan, sudah tidak sanggup lagi untuk selalu menggunakan gas saat memasak.

Sidi, pedagang lontong di kompleks serunai Kabupaten Bungo mengungkapkan, jika dirinya mulai mengeluhkan mahalnya harga gas subsidi. Sudah sejak enam bulan terakhir, harga gas subsidi mencapai Rp. 29 ribu per tabung. Naiknya harga gas subsidi membuat mereka hanya bisa pasrah.  Akibatnya, untuk memasak segala kebutuhan dagangannya, ia terpaksa menggunakan kayu bakar.

“Mau tak mau harus kembali ke kayu bakar, gas mahal, minyak tanah langkah, ya terpaksa kami kembali kekayu bakar dari pada nggak jualan,” ungkap Sidi.

Hal serupa juga di alami Santo, seorang pedagang pecel lele, di Kota Bungo. Ia  mengaku, jika untuk memasak dirinya sekarang terpaksa menggunakan kayu bakar. Walaupun lebih repot, tapi terpaksa ia lakukan. Sebab dia tak sanggup lagi membeli gas subsidi atau gas 3 kg. Gas hanya ia gunakan untuk di tempat jualan saja.

“Saya hampir tiap hari beli gas, untuk masak pecal lele. Satu tabung gas subsidi, itu harganya Rp 29.000,” ungkapnya.

Katanya harga seperti ini sudah bertahan sejak enam bulan terakhir. Tak pernah terjadi penuruan harga sejak saat itu. Warga pun berharap pemerintah segera turun tangan, untuk mengatasi masalah ini. Sebab, masalah ini seperti tak pernah selesai.

Terpisah, Kabag Ekonomi Setda Bungo, Devi Meyani, tak menampik adanya harga gas yang mahal di pasaran. Menurutnya, ini merupakan permasalahan yang cukup lama terjadi di masyarakat Bungo.

“Kita cukup kelabakan untuk menangani masalah ini, rata-rata yang bermain para pengecer. Kalau pangkalan saya pastikan tak ada yang berani,” katanya.

Menurut Devi, pengecer inilah yang sering membuat gas hilang dipasaran. Sehingga nanti mereka menjual dengan harga tinggi di masyarakat.(frs/iis)

Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: