Dituding Tak Respon Soal Truk Batubara, Dishub Malah Salahkan Polri dan ESDM

0
Truk Batubara Terbalik di Simpang Rimbo
Truk Batubara Terbalik di Simpang Rimbo
SERUJAMBI.COM, Jambi – Dinas Perhubungan Provinsi Jambi membantah tidak merespon persoalan angkutan batubara yang sudah meresahkan masyarakat.
BACA JUGA: Pembakar Bendera Tauhid Divonis 10 Hari Penjara, Denda Rp 2 Ribu
Menurut Kepala Bidang Perhubungan Darat dan Perkeretaapian, Dishub Provinsi Jambi, Wing Gunariadi, pihaknya sudah merespon permasalahan angkutan barubara yang terjadi selama ini, dengan memasang rambu pembatasan operasional jam angkutan batubara sebanyak 20 titik.
“Ada 20 titik rambu pembatasan jam operasional mulai dari Muarabungo, Tebo, Sarolangun, Batanghari, Muarojambi dan Kota Jambi,” kata Wing kepada Inilahjambi.com (media partner Serujambi.com), Senin (5/11/2018).
Menurut dia, persoalan angkutan batubara tidak dapat diselesaikan semata-mata oleh Dishub Provinsi Jambi. Sebab masalah itu juga harus ditangani secara bersama-sama oleh stake holder terkait seperti Dinas ESDM, Polri dan pengusaha batu bara. Selain itu lanjut Wing, harus didukung juga dari pemerintah kab/kota penghasil batubara.
“Artinya kabupaten/kota harus tetap memantau lintasan angkutan batu bara di luar jam operasional dengan berkoordinasi dengan instansi terkait sesuai kewenangan masing-masing,” lanjutnya lagi.
Pihaknya selama ini, kata Wing, selalu berupaya agar pelanggaran terhadap jam operasional angkutan batu bara tidak ada lagi, namun perlu adanya pengawasan di lapangan oleh kab/kota yang berada di lintasan batubara.
“Kalau cuma mengandalkan anggaran operasional ke Dishub Provinsi Jambi, itu tidak mungkin karena sangat terbatas. Jadi menurut kami ayok kita sama-sama perduli untuk mengatasi permasalahan angkutan batubara ini, ” ajak Wing.
Dishub Provinsi Jambi, tekan Wing, akan selalu respon dan secara berkala mengadakan gakkum bersama-sama Polri dlapangan.
BACA JUGA: Tubuh Korban Lion Air Jorry Saroinsong Utuh 90 Persen
Ditanya mengapa para pengemudi angkutan batubara tetap membandel meski sudah ada rambu pembatasan jam operasional, Wing mengatakan karena para supir harus mengejar trip untuk mengisi kembali muatan batubara.
“Biaya angkut batubara sangat rendah, jadi mereka harus kejar trip sehari,” tutupnya. (esa)
Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: