Harga Karet Rp 5.000 Perkilo, Petani di Batanghari Tercekik

0
Ilustrasi Petani Karet. Foto: Istimewa
SERUJAMBI.COM,Muarabulian- Harga komoditas karet nian anjlok, di Batanghari merosot ke angka Rp 5.000 perkilogramnya. Ditambah lagi hujan terus mengguyur, dampaknya para petani karet kian tercekik.
Harga Rp 5.000 ini sangat tak sebanding dengan kebutungan pokok lainnya. Khususnya beras yang mencapai Rp 10.000 perkilo.
Petani berharap agar Pemerintah Kabupaten Batanghari dan Provinsi Jambi bisa memperhatikan nasib para petani saat ini.
Yanto Petani karet warga Desa Tebing Tinggi Kecamatan Pemayung mengatakan, bahwa kehidupan sebagai petani karet semakin terpuruk, sebab harga barang kebutuhan pokok semakin tinggi sedangkan harga karet tidak sesuai, hanya kisaran Rp 5.000.
“Sehingga para petani tidak bisa lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kami sekarang terpaksa berhutang dulu di warung untuk kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.
Dikatakannya pula,  pemerintah saat ini hanya bisa janji saja untuk menaikan harga karet. Namun, tidak ada realisasinya sama sekali.
“Harga barang terus naik sedangkan harga karet rendah jadi kami untuk mencukupi kebutuhan dengan ngutang, tolong pak gubernur pak presiden naikan harga karet pikirkan nasib kami petani karet jangan cuma janji di waktu kampanye aja,” kesalnya.
Terpisah Suryani warga Dusun Rasau kecamatan Pemayung mengatakan dengan rendahnya harga karet, saat ini petani yang hanya jadi kuli potong, karena tidak mempunyai kebun karet lebih terpuruk lagi.
Sebab karet hasil sadap dibeli dengan harga yang rendah setelah itu berbagi dengan pemilik kebun.
“Jadi kehidupan kami bukan sejahterah sesuai dengan janji pemerintah malah semakin terpuruk, kami cuma kuli potong mas hasil karet yang kami dapat berbagi sama pemilik kebun coba pemerintah bisa menaikan harga karet mencapai Rp 10.000/kg saja, mungkin nasib kami lebih baik,” keluhnya.
Harapan Suryani pemerintah harus mengambil sikap terkait soal harga karet tersebut, sebab kebutuhan ekonomi saat ini sangat tinggi, bahkan mata pencarian masyarakat  mayoritas adalah petani.
“Di Batanghari ini banyak petani, jadi kalau kebijakan tidak berpihak kepada petani maka ekonomi masyarakat akan terganggu, bahkan untuk biaya pendidikan kami sudah tidak mampu lagi,” pungkasnya.(riz)
Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: