Jika Belajar dari Korea, SAH Yakin Indonesia Bisa Menjadi Negara Maju

0
Sutan Adil Hendra
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Sutan Adil Hendra
SERUJAMBI.COM, Jambi – Enam dekade lalu, Korea Selatan tercabik perang saudara dan penduduk yang hidup dalam kemiskinan. Tapi kini, Korea Selatan menjadi salah satu Macan Asia dalam perekonomiannya.
Melesatnya ekonomi Korea Selatan memang membuat dunia kagum. Tanpa memiliki sumber daya alam seperti minyak atau hutan dan geografisnya yang keras tidak membuat Korea tak bisa apa-apa.
Selepas perang saudara dengan Korea Utara yang berlangsung 1950-1953, Korea Selatan terus bangkit membangun ekonominya hingga menjadi negara maju seperti sekarang ini.
Berkaca dari kesuksesan Korea Selatan ini, Pimpinan Komisi X DPR RI Sutan Adil Hendra (SAH) mengatakan ada tiga kunci yang menjadi kesuksesan Korea Selatan menjadi negara dengan ekonomi yang maju yang bisa menginspirasi Bangsa Indonesia.
1. Pemimpin yang punya visi
Usai perang saudara, Pemimpin Korea Selatan memutuskan untuk lebih meningkatkan perekonomian yang bisa mengangkat derajat hidup warganya dan tidak terlalu fokus pada ekonomi militer seperti yang dilakukan tetangganya Korea Utara yang memperkuat ekonomi untuk kepentingan militer. Artinya Indonesia butuh pemimpin yang punya visi besar untuk membangun kejayaan bangsa, jelasnya.

“Sejak tahun 1960, Korea memutuskan menjadi negara industri dengan fokus pada 3 hal yakni elektronik, otomotif dan perdagangan produk keduanya ke seluruh dunia,” kata Anggota Fraksi Partai Gerindra tersebut.

2. Bangsa yang tekun dan memiliki etos kerja
Minimnya sumber daya alam membuat bangsa Korea tidak dimanjakan oleh alamnya. Sebaliknya menghadapi iklim yang ekstrem, orang Korea harus bisa bertahan. Ketekunan yang dimiliki orang Korea berbuah menjadi budaya kerja yang pantang menyerah dan pentingnya sebuah ketekunan untuk menjadi sukses. Kondisi ini terbalik dengan situasi Indonesia, yang punya sumber daya alam melimpah tapi miskin etos kerja.
3. Tidak terjebak Hutang dan bantuan finansial
Amerika yang menjadi sekutu dan yang membantu Korea Selatan saat perang saudara diakui SAH memiliki peran penting di awal-awal kebangkitan Korea. Menurutnya sebagai bangsa yang baru saja terpuruk setelah perang, memiliki sekutu yang bisa membantu sektor keuangan sangat diperlukan. Namun bantuan keuangan ini tidak membuat Korea terjebak dalam lingkaran hutang seperti yang dialami banyak negara berkembang.
Bantuan yang diberikan Amerika tidak hanya finansial melainkan juga transfer teknologi dan pengetahuan yang akhirnya sangat berguna untuk Korea dalam pengembangan industrinya.
Terbukti dengan 3 kunci itu, ekonomi Korea kini menjadi sangat maju. Produk teknologi Korea diakui dunia seperti KIA, Samsung, LG, industri perkapalan, industri baja, kereta api cepat (KTX Bullet Train) dan banyak lagi, jelasnya
Korea kini menduduki peringkat 8 dunia untuk perdagangannya setelah Amerika, China, Jerman, Jepang, Prancis, Belanda dan Inggris. Orientasi ekonomi pada ekspor menjadi salah satu pendongkraknya.
Besaran atau ukuran ekonomi Korea Selatan juga menduduki peringkat 12 dunia. Sebagai negara yang menganut paham demokratis, Korea berhasil mengangkat kesejahteraan warganya yang pada 2015 memiliki pendapatan per kapita 28 ribu dolar AS per tahun. Bahkan sebagian besar kelompok masyarakatnya punya pendapatan per kapita 50 ribu dolar per tahun.
Maraknya aktivitas ekonomi membuat Korea banyak mengadakan pameran atau acara-acara dengan kelas internasional. Efeknya, bisnis MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) ikut tumbuh subur.
“Salah satu pameran yang digelar adalah ASEAN Trade Fair di Coex, Seoul Korea. Pameran ini diikuti 10 anggota ASEAN yang bertujuan meningkatkan volume perdagangan, investasi, pariwisata serta memperkaya pertukaran budaya. Pertanyaannya kapan Indonesia bisa mengikuti jejak Korea Selatan,” tanya Anggota Dewan Pembina Gerindra ini lirih.(*/hry)
Loading Facebook Comments ...
loading...