Korban Diperkosa Kakak Kandung Itu Dipidana dengan Dugaan Aborsi

0
Kejaksaan Negeri Muarabulian konferensi pers menjawab berita seputar vonis terhadap WA, korban diperkosa kakak kandung hingga hamil dan aborsi.
Kejaksaan Negeri Muarabulian konferensi pers menjawab berita seputar vonis terhadap WA, korban diperkosa kakak kandung hingga hamil dan aborsi. Credit: Rizky
SERUJAMBI.COM, Muarabulian – WA, korban diperkosa kakak kandung hingga hamil di wilayah Batanghari, Provinsi Jambi, ternyata dipidana dengan pasal penghilangan nyawa seseorang. Ia diduga sebagai pelaku aborsi.

BACA JUGA: ABG Korban Diperkosa Kakak Kandung Tak Jadi Ditahan

Pihak kejaksaan Negeri (Kejari) Batanghari menggelar konferensi pers Rabu (1/8/2018) sekira pukul 13.00 Wib di aula kantor Kejari Batanghari. Konferesni pers tersebut dilakukan untuk meluruskan pemberitaan miring terhadap kasus incest yang terjadi di Batanghari di media nasional dan media internasional.
Kasi Intel kejari Batanghari Eko Joko Purwanto SH mengatakan, terdapat beberapa kekeliruan di pemberitaan media nasional dan internasional yang menyatakan WA (15) adalah korban pemerkosaan yang dijatuhi hukuman.

BACA JUGA: Kasus Hubungan Intim Sedarah Berujung Penjara Gegerkan Dunia

“Terdapat kekeliaruan dari berita tersebut yang menyatakan WA (15) merupakan korban pemerkosaan sampai hamil yang berujung aborsi. Sehingga WA dijatuhi hukuman,” kata Kasi Intel Kejari Batanghari Eko Joko Purwanto.
Dijelaskan, kejadian sebenarnya pada 29 Mei 2018, masyarakat Desa Pulau, Kecamatan Muara Tembesi, digegerkan dengan penemuan mayat janin bayi. Setelah dilakukan pengecekan dan olah TKP oleh polisi, diketahui bayi tersebut merupakan hasil aborsi yang dilakukan oleh dua pasang muda mudi yang masih memiliki hubungan sedarah.

BACA JUGA: Rumah Panggung Saksi Hubungan Intim Kakak-Adik

“Dalam perkara ini yang menjadi fokus penanganan yang berujung penjatuhan hukuman kepada kedua anak tersebut, karena perkara aborsi dan pencabulan anak di bawah umur,” jelasnya.
WA dan AS, kedua kakak beradik itu dijatuhkan hukuman pidana dalam perkara berbeda, tapi dalam satu kejadian. Untuk WA (15) dikenakan pidana selama enam bulan penjara dari tuntutan JPU satu tahun penjara. Ia melanggar pasal 77 A ayat 1 jo pasal 45A UU RI  No 35 tahun 2014, tentang perubahan UU RI No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak juncto pasal 55 ayat 1 ke 1  KUHP pidana.

BACA JUGA: Anak Berhubungan Intim Hingga Hamil, Ibu Diduga Ikut Aborsi Putrinya

Sementara AS (18) dijatuhi pidana hukuman penjara selama 2 tahun penjara oleh majelis hakim. Sementara tuntutan JPU selama 7 tahun penjara, karena pemerkosaan anak di bawah umur. Untuk kasus aborsi sendiri, AS tidak terlibat karena tidak mengetahui tindakan aborsi tersebut.
“Saat sidang, As memberikan keterangan yang sama pada saat BAP,  tidak mengetahui proses aborsi tersebut. Bahkan AS sempat ikut foto-foto saat penemuan janin pada tanggal 29 Mei tersebut,” jelasnya.
“Yang memberatkan (WA) sehingga harus dijatuhi hukuman pidana, karena kasus aborsi yang dilakukannya dalam artian menghilangkan nyawa sesorang. Karena saat kejadian, kondisi janin sudah bernyawa dalam usia enam bulan. Sehingga (WA) dikenakan pasal hukuman,” tambahnya.
Menurutnya, aborsi dalam undang-undang kesehatan memang dibolehkan. Hanya saja ada sejumlah syarat yang ditentukan, seperti berisiko kepada keselaman ibu, janin meninggal dalam kandungan, dan harus melalui prosedural medis lainnya.
“WA dipidana dalam perkara menghilangkan nyawa seseorang dengan cara aborsi. Tentu tindakan aborsi tidak dapat dikesampingkan karena diatur,” pungkasnya.(riz)
Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: