Korban Keracunan Makanan di Desa Rambutan Masam Berjumlah 79 Orang, Dinkes Tetapkan Status KLB

0
Puluhan Warga Rambutan Masam sedang dirawat setelah keracunan makanan saat yasinan. Foto: Rizki/Serujambi.com
Puluhan Warga Rambutan Masam sedang dirawat setelah keracunan makanan saat yasinan. Foto: Rizki/Serujambi.com
SERUJAMBI.COM, Muarabulian – Korban keracunan masal pengajian rutin ibu-ibu di Desa Rambutan Masam, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari mencapai 79 orang. Atas kejadian itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari mentetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB)
BACA JUGA: Denny Sumargo Akui Batal Nikahi Dita Soedarjo karena Ibunya Dihina
Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batanghari, dr Elfie Yennie bahwa pasien yang mengalami keracunan yang dirawat di RSUD Hamba Muara Bulian mencapai 52 orang dan di Puskesmas Muara Tembesi 11 orang.
“Kasus ini merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan,” katanya Sabtu (15/12/2018).
Dikatakannya, pihaknya saat ini sudah melakukan prosedur KLB yang meliputi penanganan pasien, investigasi kasus, penyelidikan epidemologi, serta pemeriksaan sempel dan sebagainya.
“Investigasi mulai kita lakukan tanggal 14-15 Desember 2018. Berdasarkan hasil investigasi tim penanggulan KLB Dinkes Batanghari berjumlah 79 orang. Jumlah yang diwawancara 16 orang, jumlah pasien yang sakit 79 orang dan yang menjalani rawat inap 63 orang,” terangnya.
“Untuk biaya pasien semua ditanggung oleh pemerintah,” imbuhnya.
Dikatakannya pula, untuk kasus keracunan makanan ini lebih banyak menyerang perempuan yaitu 69 dengan persentase 87,34%. Sementara laki-laki berjumlah 10 orang dengan persentase 12,65%.
“Penderita keracunan makanan golongan umur <5 tahun 1 orang, 5-9 tahun 7 orang, 10-14 tahun 10 orang dan >15 tahun 61 orang, totalnya 79 orang,” sebutnya.
“Populasi rentan pada KLB keracunan makanan adalah orang yang ikut makan berjumlah 79 orang. Attack tertinggi kasus 77,21% dan CFR 0% dari total populasi,” tambahnya.
Dijelaskannya, berdasarkan hasil investigasi, kata Elfie, makanan gado-gado di buat sendiri oleh tuan rumah dan keluarga dekat mulai pukul 14.00 WIB. Sedangkan bahan-bahan yang di beli berasal dari toko dan pasar. Untuk air minum di rebus berasal dari air PDAM.
“Untuk sampel yang diambil untuk pemeriksaan laboratorium, adalah gado-gado yang sudah di campur rata dengan bumbu, muntahan dan feaces,” sebut Elfie.
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan konfirmasi laboratorium tentang penyebab KLB keracunan makanan. Sampel di kirim ke laboratorium Kesehatan Provinsi Jambi tanggal 15 Desember 2018.
BACA JUGA: Media dan Wartawan Harus Profesional
“Untuk sampel nantinya akan diperiksa oleh BPOM Provinsi Jambi pada tanggal 17 Desember 2018 mendatang,” pungkasnya.(riz)
Loading Facebook Comments ...
loading...