OPINI: Hoax, Devide Et Impera Millenial

0
Yulfi Alfikri Noer
Oleh : Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP*
SERUJAMBI.COM – Fenomena Hoax akhir-akhir ini bak jamur dimusim hujan dan bukanlah hal baru, sejarah duniapun banyak diisi oleh cerita-cerita yang terbukti hoax dikemudian hari. Arus informasi yang mengalir begitu derasnya, utamanya di media sosial membuat sebagian orang tak bisa memilah mana yang benar, mana yang salah. Apakah hoax itu sesungguhnya? Hoax  adalah suatu kejadian yang dibuat-buat, dengan kata lain hanyalah karangan belaka. Hoax biasanya juga  diartikan sebagai berita bohong atau tidak sesuai dengan kenyataannya. Berita hoax ini tanpa disadari menyebar dikarenakan kurangnya informasi, pengetahuan dan penalaran yang sempit, akhirnya digembar-gemborkan, seoalah-olah informasi itu benar, padahal tidak benar.
BACA JUGA: Potongan Tubuh Korban Lion Air Kembali Ditemukan
Di Indonesia, terkait penyebaran hoax di media sosial, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan terkait para penebar berita Hoax. Penebar hoax akan dikenakan KUHP, Undang-undang No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Undang-undang No.40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta tindakan ketika ujaran kebencian telah menyebabkan terjadinya konflik sosial. Layaknya hoax, ujaran kebencian atau hate speech pun telah mendominasi di media sosial. Ujaran kebencian (hate speech) ini biasanya bertujuan untuk menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu dan/atau kelompok masyarakat, antara lain suku, agama, aliran keagamaan, keyakinan/kepercayaan, ras, antar golongan, warna kulit, etnis, gender, kaum difabel hingga orientasi seksual. Lantas, mengapa hoax masih beredar begitu leluasa di sejumlah jejaring sosial?
Sejarah Islam mencatat dan menggaris bawahi tentang bahaya berita bohong (hoax), berita hoax bahkan sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup. Dalam pandangan Islam terbetik suatu pemahaman bahwa, sesungguhnya keberadaan orang-orang munafik ditengah kaum muslimin dapat menimbulkan bahaya yang sangat besar, akan tetapi lebih berbahaya lagi adalah keberadaan orang-orang mukmin berhati baik yang selalu menerima berita yang dibawakan oleh orang-orang munafik, lalu mereka berkata dan bertindak sesuai berita itu. Mereka tidak peduli dengan bencana yang ditimpakan akibat mengekor orang munafik. Berita bohong memang menjadi momok yang dengan mudah memporak-porandakan tatanan dalam kehidupan masyarakat.
Selanjutnya, tokoh Nazi yang terkenal yaitu Hitler yang menyatakan tentang kebohongan, yaitu “kebohongan akan menjadi kebenaran jika dilakukan secara terus menerus”. Tak pelak kebohongan yang massif justru membawa petaka baru untuk kita. Seseorang mampu melakukan dengan mudah upaya-upaya agitasi ketika wacana yang dibangun sudah berhasil memperdaya masyarakat. Tentu agitasi tersebut berupa hasutan kepada orang banyak untuk mengadakan huru hara, pemberontakan dan sebagainya dan biasanya dilakukan oleh tokoh atau aktivis politik dengan gaya pidato yang berapi-api untuk mempengaruhi massa. Keadaan ini semakin meresahkan dan dinilai bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional.
Dalam Konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Berita bohong apalagi fitnah memang sangat berbahaya dan  bahkan berpotensi memunculkan konflik horizontal di masyarakat. Dan hal ini akan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Hoax merupakan salah satu bentuk trik penjajahan era millenial, dulu ketika Indonesia di jajah oleh Belanda, Belanda menggunakan politik Devide et Impera nya untuk memecah belah bangsa Indonesai agar bangsa ini tetap dalam genggamannya. Hoax adalah Devide et Impera millenial, karena sejatinya Devide et Impera adalah politik pecah belah atau adu domba, kombinasi strategi politik, militer dan ekonomi yang bertujuan untuk mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat. Unsur-unsur yang dijadikan teknik dalam politik ini adalah, menciptakan atau mendorong perpecahan dalam masyarakat untuk mencegah aliansi yang bisa menentang kekuasaan berdaulat, membantu dan mempromosikan mereka yang bersedia untuk bekerjasama dengan kekuasan yang berdaulat, mendorong ketidak percayaan dan permusuhan antar masyarakat dan mendorong konsumerisme yang berkemampuan untuk melemahkan biaya politik dan militer. Strategi politik ini berhasil diterapkan oleh bangsa Belanda selama beberapa abad di Indonesia.
BACA JUGA: Merasa Ditipu, Duo Singa Bakal Polisikan Bupati Bungo
Hoax, Devide et Impera millenial  menggunakan kemudahan media sosial. Menjelang tahun politik  2019 ini, penyebaran berita palsu (hoax) sudah dijadikan strategi antar partai politik untuk saling menjatuhkan, kondisi politik dan manuver Partai Politik menuju Pemilihan Presiden semakin memanas dan membuat resah. Semakin maraknya penggunaan isu hoax dan SARA. Konstelasi dan fenomena politik yang sedang berkembang ini melahirkan pesejarah dan babak baru drama politik Indonesia. Walaupun demikian momentum politik seperti apapun, mengharuskan kita tetap dalam bingkai etika kemanusiaan yang mengutamakan tegaknya advokasi hak-hak publik seperti keharmonisan berelasi sosial dibandingkan nafsu memburu target-target individual dan kelompok. Jangan sampai hoax yang menguntungkan rezim yang berkuasa dibiarkan, sedangkan yang dianggap mengganggu pemerintah dibabat habis. Berkaca dari pengalaman politik devide et Impera nya Belanda, alangkah baiknya seluruh lapisan masyarakat Indonesia lebih cerdas menanggapi berita-berita hoax, dengan tidak mempercayai secara langsung namun perlu melakukan check dan recheck, serta tidak berupaya untuk menyebarluaskannya. Jadilah cendikiawan dan masyarakat millenial yang cerdas dan kritis, memberikan pencerahan, pantang memilih jalan jahat dan khianat yang merugikan rakyat dan menolak keras untuk menjadi agen provokasi, pembisnis dan penabur fitnah atau perakit modus kriminalisasi politik. Beruntunglah penguasa bila rakyatnya tidak bisa berfikir (Hitler). (*)
Dosen Luar Biasa Fak. Syariah UIN STS Jambi
Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: