OPINI: Intelektualitas dan Moralitas

0
Yulfi Alfikri Noer
Yulfi Alfikri Noer
Oleh : Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP*
SERUJAMBI.COM – Posisi intelektual menjadi salah satu perdebatan penting dalam wacana perkembangan sosial selama ini. Jika merunut pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara harafiah intelektual berarti cerdas, berakal dan berfikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Definisi ini sangat dekat dengan kaum terdidik atau terpelajar. Kaum intelektual bisa disebut juga dengan kaum terpelajar dan kaum yang mampu membuka cakrawala intelektual dan kultur ilmiah.
BACA JUGA: Miris! NT Diperkosa, Dijual hingga Dipaksa Nyabu
Kaum intelektual adalah agent of change sekaligus moral force, dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang dimiliki dan ilmu tersebut dapat direalisasikan ke masyarakat dan lingkungan dalam pemecahan suatu masalah. Sebenarnya, manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual. Terkadang, orang cerdas, pintar atau orang yang memiliki IQ tinggi, tidak selalu berbanding lurus dengan kemanfaatan dirinya bagi masyarakat.
Akan celakalah jika intelektualitas dipakai untuk merusak. Menjadikan pengetahuan sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi personal dan lingkungan merupakan asas utama menuntut ilmu. Tidak sebagai ajang meraih gengsi atau popularitas semata. Sejatinya, kampus merupakan penjaga bandul keadilan dan kebenaran, sebab kampus dapat melahirkan intelektual-intelektual muda yang dapat memimpin bangsa.
Profesor Heru Nugroho PhD dalam pengukuhan Guru Besar UGM, tanggal 14 Februari 2012, mengeluarkan pidato yang mewakili keresahannya terhadap dunia intelektual di Indonesia. Menurutnya, telah terjadi banalitas intelektual di berbagai kampus, termasuk UGM. Dia juga gelisah terhadap dosen-dosen yang jarang mengajar mahasiswa karena terlalu sibuk diluar. Para kolega tersebut dijulukinya sebagai “dosen asongan”. Lebih parah lagi, menurut Prof Heru, banalitas intelektual di perguruan tinggi ini juga mendapat stimulant dari lemahnya tata kelola dan kelembagaan universitas sebagai institusi akademik. Bahkan saat ini yang nampak universitas cenderung sekedar menjadi arena perebutan kekuasaan bagi para pemangku kepentingan. Berebut kuasa pragmatis yang bernuansa ekonomi politik,paparnya.
Mengapa para intelektual terjebak dalam dunia yang tidak intelektual? Jawabannya karena intelektual itu meningalkan garis orbitnya, yaitu nilai (value). Nilai inilah yang di junjung dan di jadikan sebagai standar bertingkah laku bagi seorang intelektual-akademisi. Ketika dia sedikit saja keluar meninggalkan nilai-nilai ini, maka dia tidak ada bedanya dengan masyarakat lain di luar kampus. Nilai-nilai tersebut adalah kejujuran, kebenaran, pengabdian masyarakat dan objektifitas.
Jangan karena materi dan kekuasaan kaum intelektual mengorbankan nilai-nilai idealisme. Sebab materi dan kekuasaan merupakan godaan yang paling dahsyat membayangi kaum intelektual. Tidak jarang orang terjebak dan lalu melacurkan diri dalam kekuasaan karena tarikan materi yang lebih menjanjikan. Disinilah urgensi moralitas. Moralitas inilah yang akan membimbing intelektualitas bisa berjalan kearah yang positif dan bukan mengganggu harmoni kehidupan.
Begitu banyak kasus yang diungkap oleh media tentang perilaku yang menyimpang yang membuat hati miris dikarenakan ketimpangan intelektualitas terhadap moralitas. Mulai dari kasus skandal video mesum, pelecehan seksual, fenomena ayam kampus, oknum dosen terciduk dikamar hotel dengan mahasiswinya, plagiat, korupsi dan lain-lain. Seperti yang dilansir Tribun Lampung.co.id (20/11/ 2018), seorang dosen Unila dituntut penjara 2 tahun karena diduga berkali-kali mencabuli mahasiswi saat bimbingan skripsi dan yang lebih miris lagi adalah seperti yang diberitakan oleh detiknews (20/11/2018),  UIN Sunan Gunung Djati Bandung Bentuk Tim Khusus Telusuri Kasus Dosen Mesum. Tim khusus ini di bentuk oleh Rektor UIN SGD Bandung untuk menelusuri pelecehan seksual salah seorang oknum dosen di Fakultas Dakwah sepanjang tahun 2016-2018, lagi-lagi dengan modus bimbingan skripsi, hal ini membuat penulis sangat prihatin karena selayaknya selaku orang yang diamanahkan untuk melahirkan generasi-generasi agent of social change, agent of intelectual, agent of development dan agent of transformation yang berakhlak mulia dan cerdas justru mengkhianati amanah tersebut dan merusak masa depan.
Sungguh sangat disayangkan, pendidikan yang telah mereka tempuh selama belasan tahun hanya dibayar untuk memuaskan diri sendiri dengan cara yang tidak lazim. Patut dipertanyakan adalah, kemanakah para intelektual yang menghuni perguruan tinggi menyikapi hal itu? Menindaklanjuti dengan memberikan sanksi sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku atau mempeti es kannya dan pura-pura tidak tahu? Julien Benda pernah menulis buku “La Trahision Des Clerch” yang kemudian di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul “Penghianatan Kaum Intelektual”. Menurut Julian Benda,” kaum intelektual diharapkan mampu memberikan pencerahan bagi kehidupan masyarakat, bukan justru mempersulit hidup masyarakat awam yang tak tercerahkan. Ini merupakan ikhtiar bagi kaum intelektual untuk tidak berkhianat. Dosa besar bagi seorang intelektual adalah bila ia mengetahui kebenaran, tetapi ia takut dan tak mau mengungkapkan kebenaran tersebut.” Karena buruknya perbuatan ini serta dampak yang besar, Al-Qur’an mengancamnya dengan laknat. Para pelaku yang menyembunyikan kebenaran dijuluki sebagai manusia terlaknat (QS. Al-Baqarah: 159).
BACA JUGA: Bayi 7 Bulan Dibuang di Saluran Limbah Hotel
Seorang intelektual selayaknya mampu memiliki kecerdasan-kecerdasan lain yang mampu melengkapi keintelektualannya sebagai figur yang patut dicontoh dan diteladani. Kecerdasan intelektual tidak akan memiliki makna yang berarti tanpa di ikuti kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, kecerdasan dalam bersikap dan bertutur kata serta kecerdasan motorik. Kecerdasan tersebut jika menyatu pada diri seorang intelektual, maka tidak diragukan lagi akan terlahir generasi-generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Sebagai penutup, penulis mengutip sebuah quotes dari salah seorang filsuf yang terkenal, Plato, “Jika Manusia tahu apa yang dikatakannya sebagai hidup baik, mereka tidak akan berbuat hal-hal yang bertentangan dengan moral.”

*) Dosen Luar Biasa Fak. Syariah UIN STS JAMBI

Loading Facebook Comments ...
loading...