OPINI: Money Politik Artinya Korupsi Berjamah (Oleh: Johan Iswadi)

0
Johan Iswadi
Johan Iswadi
Cahyo Kumolo, dalam bukunya yang berjudul Politik Hukum PILKADA Serentak  yang diterbitkan oleh penerbit PT Mizan Publika, Bandung, tahun 2015 halaman155, mengartikan Politik uang sebagai suatu upaya memengaruhi orang lain (masyarakat) dengan menggunakan imbalan materi, atau dapat juga diartikan jual beli suara proses politik dan kekuasaan serta tindakan membagi- bagikan uang, baik milik pribadi atau partai untuk mempengaruhi suara pemilih. (Thahjo Kumolo, 2015)
Dari berbagai sumber literature dan pendapat para ahli sudah jelas jika politik uang memberikan dampak yang tidak bagus bagi perkembangan demokrasi, dimana merusak proses dan hasil pemilu. Politik uang, membuat hati nurani pemilih mati sehingga memilih cuma atas imbalan tidak lagi objektif. Dengan demikian, maka calon yang terpilih bisa saja tidak memiliki kemampauan mengelola Negara serta tidak paham dengan tupoksinya.
Dan yang lebih parah, yakni money politik akan akan jadi bibit yang baik bagi pemerintahan yang korup,  sebab politisi yang terpilih melalui money politik pasti akan berupaya mengembalikan modal yang sudah terpakai dengan segala caranya, termasuk dengan menyalahgunakan jabatan dan korupsi dan kolusi. Belum lagi, politik uang mulai merubah mindset sebagian orang, dimana jika tak dikasih uang, maka tidak mau datang ke TPS, boro-boro untuk memilih calonya.
Politik uang akan merusak semua sendi kehidupan bangsa dan bernegara,  sebab money poitik membuat semua steakholder pemilu mengalami gegar budaya yang negative, lihatnya saja dari lapisan bawah, money politik akan merusak pemikiran pemilih yang harusnya rasional menjadi irasional, menjadikan pemilih malas dimana akan muncul rasa pragmatis dimana jika tak dapat uang, pemilih enggan menggunakan hak suara.
Jika pemilih telah memilih calonya karena uang, maka calon terpilih karena membayar pemilih bukan calon yang baik, sebab dipastikan calon tersebut bermental korup dan menghalakan segala  cara untuk mencapai tujuan.
Nah, jika pejabat yang demikian duduk dalam kursi-kursi strategis, bisa dibayangkan apa yang terjadi, sebab besar kemungkinan pejabat yang terpilih akan kembali menghalalkan segala cara untuk mengambalikan modal yang sudah habis untuk menyogok pemilih dan bukan tidak mungkin pejabat yang korup akan menyuap semua penyelengggara Negara khususnya penegak hukum untuk mengamankan aksi korupnya.   Jika kondisi ini terjadi, maka apakah salah jika money politik dikatakan telah merusak semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Maka mengingat masifnya dampak negative money politik saat pemilu, maka sebaiknya semua pihak yang terlibat dalam pemilu berkomitmen mencegah terjadinya money politik atau jika menemukan pidana pemilu berupa praktik politik uang, maka untuk tidak sungkan untuk melaporkan Bawaslu atau pihak yang berwajib.(***)
Penulis ialah Mantan Panwascam Sarolangun, kini aktif sebagai Majelis Pemuda Indonesia (MPI) juga kontributor Serujambi.com di Sarolangun.
Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: