(Perempuan), Pengendara yang Gegabah

0
Memem Mak-mak bawa motor.
Memem Mak-mak bawa motor.
Sebuah Surat Cinta
Siang hari (seperti biasa), aku sedang buru-buru ke kantor menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak sebagai pekerja. Roda empat kesayangan (seperti biasa pula) melaju di atas jalanan dalam kota yang kian hari kian sempit. Ada banyak deru mesin, klakson, desau angin dari AC, dan lantunan lagu baru yang tak kupahami dari radio, menemani sepanjang perjalanan rumah-kantor.
Sedang asyik-asyiknya menikmati perjalanan dengan kecepatan sekitar 60 kilometer per jam, tiba-tiba motor Yamaha Mio warna merah menyalip dari kiri. Tiba-tiba pula motor itu membanting ke kanan, tepat beberapa sentimeter dari moncong mobil yang kukendarai. Aku kaget. Gugup setengah mati, kupijak pedal rem secepat mungkin. Beruntung si pengendara motor dan aku selamat dari kejadian tiba-tiba itu. Tidak ada tabrakan.
Selanjutnya, kau tahulah, aku memaki-maki sembarangan. Menghardik-hardik sendiri di dalam mobil begitu sadar betapa gegabahnya si pengendara motor itu.
Masih kesal, kukejar Mio merah itu. Dan aku berhasil mengidentifikasi si pengendara. Ia perempuan. Bertubuh lebar dengan helm putih menutupi jilbab warna coklat, baju gamis besar coklat muda, dan, membawa sesosok bocah di depannya. Bocah itu menatapku tajam ketika kusalip Mio merah mereka.
Tiba-tiba… amarahku lebur. Entah kenapa.
Aku melaju lagi dengan kecepatan (seperti biasa) 60 kilometer per jam. Mengurangi beberapa kilometer per jam di tikungan, lalu menatap spion kiri. Kucari lagi perempuan dan bocah cantik itu, tapi tak ketemu. Mereka telah ditelan masa lalu yang hanya beberapa menit berlalu. Amarahku menetap bersama mereka. Entah kenapa.
Setengah jam kemudian, aku tiba di kantor. Memarkir mobil, lalu buru-buru mencari perempuan-perempuan sekantor. Kepada mereka, aku ceritakan kejadian yang baru kualami. Mereka menyimak, mendengar, lalu cemberut. Aku terkejut.
Beberapa dari mereka tak mau komentar, beberapa lagi malah menyalahkanku. Aku terpojok. Bingung, Hampir limbung kalau tak segera kabur dan bersembunyi di balik meja kerja, pura-pura serius memelototi tugas harian.
Keesokan harinya aku memperluas pencarian. Seperti lembaga survei, kutanya beberapa perempuan yang kutemui di jalan, di kantor, di pasar, di pelataran-pelataran parkir, termasuk di rumah (perempuanku sendiri. Ya… Kamu).
Pertanyaan-pertanyaanku antara lain, kenapa kalian bisa gegabah di jalanan, apa yang kalian pikirkan ketika berkendara. Intinya, apa yang ada di benak hampir kebanyakan perempuan pengendara selama berkendara?
Jawaban-jawaban yang kudapat hampir sama. Mereka, makhluk terhebat ciptaan Allah itu, ternyata memikirkan aku dan kaum sejenisku. Bahkan, mereka berpikir lebih detail untuk aku, generasi penerus dan kaum sejenisku.
Bingung? Sama. Awalnya aku juga bingung. Tapi begitu tahu, kebingungan itu akan terjawab dengan cinta yang besar dari aku dan kalian semua (kaum sejenisku) untuk para perempuan pengendara yang gegabah. Termasuk, rasa memaafkan itu akan tumbuh lambat laun seiring pemahaman bersama.
Baiklah. Kujabarkan saja.
Setelah beberapa hari survei (tentu tidak memakai konsep survei Cak Lontong), aku jadi tahu betapa padatnya sistem neuron perempuan setiap harinya. Kepadatan itu melebihi apa yang ada di sistem saraf lelaki.
Kalau lelaki, pada umumnya, hanya memikirkan bagaimana menafkahi dan mencukupi kebutuhan keluarga. Sehari-hari, kita (ya, kamu, para lelaki), bekerja dan bekerja mencari uang. Lalu pulang ke rumah dengan kelelahan yang dibuat-buat (kenapa dibuat-buat? Nanti kujabarkan lewat surat yang berikut).
Sepanjang perjalanan, pikiran kita tak lebih banyak dari 10 item. Tugas harian, rencana masa depan, rencana keluarga, manajemen keuangan, uang, uang, uang dan uang. Karena sedikit, kita jadi cenderung lebih fokus selama berkendara. Bisa lihat kanan-kiri, depan-belakang, ngontrol gas-rem, ukur jarak, ukur waktu dan sekian banyak teknik mengendarai bisa kita lakoni dengan sebaik-baik mungkin. Akhirnya, kita lebih sering teliti selama berkendara dan selamat di jalanan.
Itu kita, lelaki. Lalu bagaimana dengan perempuan?
Kalau mereka, selama berkendara membawa lebih dari 10 item di pikirannya. Sudah termasuk tugas harian, rencana keluarga-masa depan, manajemen keuangan (seperti yang kita pikirkan), termasuk hal-hal yang kita anggap sepele.
Apa itu? Banyak. Sangat banyak. Mulai dari alas kasur yang belum diberesi, rumah yang belum disapu, piring yang belum dicuci, kain yang belum dicuci-dilipat-disetrika, bahan makanan yang harus dibeli untuk menu makan hari ini. Pada bagian ini, perempuan malah merincikannya dengan sedetail-detail mungkin.
Misal, harus ke Pasar Keluarga untuk beli cabai seperempat kilogram, bawang merah 2 ons, bawang putih 2 ons, santan seperempat liter, minyak goreng 1 liter, daun sop, daun selada, batang serai, telur selusin.
Setelah itu harus ke mal atau minimarket untuk beli beras 1 karung, sampo 2 botol, mi instan setengah lusin (ini pun sudah dirinci: mi goreng rasa rendang 2 bungkus, mi rebus rasa bakso 2 bungkus, mi rebus rasa ayam 2 bungkus). Habis itu beli sabun (dirinci lagi, sabun mandi 2 buah dan sabun cuci 2 buah), odol (merek Pepsodent 1, Ciptadent anak-anak 1, herbal 1), sikat gigi 5 (1 untuk suami, 1 untuk diri sendiri, 3 untuk anak-anak dan cadangan).
Baru bagian ini saja, aku yakin, sudah banyak yang malas membaca. Terlalu rumit (bayangkan kalau kita yang memikirkannya!). Tapi begitulah sebenarnya yang dipikirkan perempuan pada umumnya.
Aku lanjut.
Dari mal, ia akan berencana menjemput-mengantar anak, habis itu memasak, mencuci baju, menyetrika, menyapu rumah pada saat tak ada kegiatan, mandi, menyiapkan meja makan, lalu menunggu suami dengan ketabahan yang luar biasa. Dan dengan kelelahan yang tak bisa kita, para lelaki, bandingkan!
Ketika kita pulang, ia telah menjadi permaisuri yang sempurna lagi. Wajah bersih, tubuh wangi, badan tegak dan kokoh, dan tak lupa menyediakan banyak pelukan untuk kita nikmati sepanjang malam (dari hari yang ia sediakan energi berlebih untuk kita dan keluarga). Hebatnya, ia selalu berhasil menyembunyikan kelelahannya yang luar biasa itu demi kebahagiaan semua yang ia cintai.
Selain itu, senyumnya tak pernah lepas, bebas dan ikhlas menatap kita, anak-anak, rumah yang bersih dan rapi. Padahal, di sepanjang perjalanan setiap hari, ia selalu terancam dengan pengendara-pengendara yang tak sabaran dan tak mengerti tentang pengorbanannya, tentang apa yang ia pikirkan, dan tentang apa yang ia perjuangkan.
BACA JUGA: Kepada Bapak-bapak Dewan yang Tersangkut OTT KPK
Ya, kita (tentu saja kamu, para lelaki), seringkali tak paham tentang itu. Kita malah murka ketika melihat perempuan yang menyalip seenaknya, mengerem mendadak, memutar tanpa mempedulikan lawan di belakang, berkendara persis di tengah-tengah jalan. Kita carut maruti ia, hardik, tegur, tanpa sadar betapa istri dan perempuan di keluarga kita juga seperti itu. Berkendara dengan banyak beban berputar di kepala.
Lihat, betapa ironisnya kita, para lelaki.
Kalian tahu, setelah survei dan mendapat jawaban seperti itu, aku langsung menangis bercucuran air mata. Rasa bersalahku menghujam dada sampai nyerinya tak hilang-hilang hingga kini.
Ya, Allah, betapa berdosanya aku kepada perempuan-perempuan pengendara yang gegabah, yang selama ini aku rutuki. Betapa tak sadarnya aku bahwa mereka, selama berkendara itu, membawa sebagian besar masalah-masalah orang lain ketimbang dirinya sendiri. Betapa berisikonya mereka selama memperjuangkan kebahagiaan keluarga. Dan, betapa cintanya ia kepada kami, para lelaki yang tak peduli ini.
Hari lain, aku bergegas pulang, memarkir mobil sambil melupakan semua pengendara yang gegabah kutemui di jalan. Lalu masuk ke kamar dan menghadiahkan jutaan pelukan dan ciuman kepada istriku tercinta. Wanita yang cintanya tak pernah habis buatku dan seluruh bagian keluargaku.
Sayang, terima kasih banyak atas semuanya. Tapi sayang, berusahalah untuk hati-hati di jalan. Biar aku bisa terus mencecap cintamu hingga akhir napas ini.(***)
Monas Junior
Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: