Warga Apresiasi Bangkit Berdaya dan Kampung Bantar, Percepat Pembangunan di 11 Kecamatan

0
SERUJAMBI.COM – Inovasi dewasa ini sudah menjadi suatu kebutuhan bahkan sebuah keniscayaan bagi kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahannya. Geliat dan spirit birokrasi akan menjadi semakin laju dan padu mencapai visi dan misi.
Setidaknya hal itu sudah mencerminkan kondisi Pemerintahan Kota Jambi saat ini. Berbagai inovasi terus dibangun jajaran Pemerintah Kota Jambi guna mengimplementasikan programnya ditengah-tengah masyarakat. Untuk mendorong itu, bahkan Wali Kota Jambi non aktif Syarif Fasha pada awal tahun 2015 lalu sudah mencanangkan program One Institution one Innovation (1 institusi minimal harus melahirkan 1 inovasi).
Dari sekian banyak inovasi yang lahir dari jajaran Pemerintah Kota Jambi, salah satunya adalah inovasi unggulan pemberdayaan masyarakat, yaitu program Bangkit Berdaya dan Kampung Bantar.
Kampung Bantar (BERSIH, AMAN DAN PINTAR) dan Bangkit Berdaya (BANGUN KELURAHAN SECARA INTENSIF DAN TERPADU BERASASKAN SWADAYA). Kedua program ini memiliki konsep pelibatan secara aktif peran masyarakat, sejak dari perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan. Program ini berdampak langsung pada kebersamaan, gotong royong, sosial, ekonomi, fisik dan infrastruktur sarana prasarana dan utilitas lingkungan.
Khusus untuk program Bangkit Berdaya yang sudah dirasakan manfaatnya di 11 kecamatan dalam Kota Jambi ternyata saat ini telah mendunia, dikenal luas secara internasional dan diakui sebagai inovasi sosial inspiratif dibidang pemberdayaan partisipasi masyarakat. Bangkit Berdaya mampu membawa nama Tanah Pilih Kota Jambi mendunia, dan memperoleh penghargaan Internasional karena sukses menggerakan partisipasi masyarakat perkotaan dalam pembangunan.
Pengakuan dunia internasional tersebut ditandai dengan diterimanya penghargaan IOPD (International Observatory on Participatory Democracy) Awards Recognition 2017, yang berlangsung dalam acara 17th Conference IOPD yang di Montreal Quebec Kanada, 2017 lalu.
Penghargaan itu sekaligus menempatkan Kota Jambi sebagai 30 besar kota terbaik dari 7000 kabupaten/kota di dunia yang memiliki inovasi sosial inspiratif, yang secara khusus mengedepankan peran serta dan partisipasi komunitas masyarakat.
IOPD menilai inovasi Bangkit Berdaya dapat menjadi role model bagi pengalaman demokrasi partisipatif dalam skala lokal di tataran dunia internasional, tanpa ada kelompok masyarakat yang dikecualikan. Hal itu sangat beralasan karena di beberapa wilayah di dunia, partisipasi warga dalam kehidupan demokrasi hampir tidak banyak terlihat. Sehingga sangat tepat inovasi Bangkit Berdaya menjadi inovasi kreatif dalam penguatan peran masyarakat tanpa pengecualian, selain juga dinilai sangat efektif dalam mengakselerasi pembangunan utilitas dan infrastruktur masyarakat, berdasarkan partisipasi masyarakat (gotong royong) secara tepat sasaran, tepat waktu dan efektifitas penggunaan anggaran.
Dalam program ini, warga masyarakat memanfaatkan Bangkit Berdaya untuk membangun jalan lingkungan rabat beton dan sebagainya. Melalui program itu, Pemkot memberikan bantuan material pembangunan yang selanjutnya akan dilaksanakan pekerjaannya secara gotong royong oleh warga.
Warga RT 26 Kelurahan Palmerah, Asni menyebutkan bahwa jalan di tempatnya sudah tidak becek lagi. Dulu kata dia, kendaraan sulit lewat di tempatnya karena jalannya rusak. Namun kini berkat Bangkit Berdaya, jalan tersebut sudah di cor beton.
“Rata-rata jalan kami sudah cor, tinggal sedikit lagi yang belum tapi masih bagus kondisinya,” katanya.
Senada dengan Asni, Ketua RT 26 Kelurahan Pal Merah, Nasrun, mengatakan bahwa di wilayahnya sudah merasakan program Bangkit Berdaya itu sejak tahun 2016 lalu. Dimana pada saat itu warga mengajukan pengecoran jalan sepanjang 150 meter dan lebar 4 meter. Pada saat itu, warga bergotong-royong membangun jalan tersebut. Hingga kini jalan itu masih terlihat sangat bagus, karena berkonstruksi cor beton. Selain itu masyarakat juga merasa memiliki dengan tidak melewati jalan tersebut dengan muatan yang berlebihan.
“Mungkin masyarakat merasa memiliki karena mereka yang membangun jalan ini sendiri, sehingga mereka tidak ingin jalannya cepat rusak,” kata Nasrun, Selasa, (8/5).
Loading Facebook Comments ...
loading...