Kepemimpinan Cowboy ala Datuk Zulfikar Achmad, dari Masjid hingga Bandara Bungo

0
Zulfikar Achmad
Zulfikar Achmad

Seru Jambi – “Datuk” Zulfikar Achmad, tokoh Jambi wilayah barat ini, sudah terkenal dengan kepimpinannya yang ala cowboy: tegas, lugas, luwes, ramah, membimbing tapi penuh inovasi.

Selama menjadi Bupati Bungo dua periode (2001-2006 dan 2006-2011), ada banyak capaian dan perjuangan yang dilakukan pria kelahiran 17 Mei 1946 ini.

Gebrakan demi gebrakan, dilakukannya meski penolakan demi penolakan mengiringi langkahnya membangun Kabupaten Bungo.

Di antara sekian banyak terobosan yang dilakukan Datuk Zulfikar -sapaan akrabnya-, dua di antaranya cukup menarik. Yakni, bagaimana ia mempercepat pembangunan masji dan merintis berdirinya Bandara Muara Bungo di Desa Sungai Buluh Kecamatan Rimbo Tengah.

Mengurangi Sumbangan Pembangunan Masjid di Jalan 

Sejak dahulu hingga kini, warga yang meminta sumbangan untuk pembangunan masjid di jalan-jalan, sudah seperti tradisi yang tak bisa dihilangkan. Hampir di setiap jalan dalam Provinsi Jambi, bisa ditemui praktek seperti ini.

Di zaman Zulfikar Achmad (ZA), praktek meminta sumbangan di jalan ini tidak ada. Malah, masjid-masjid sewaktu itu berdiri dengan cepat dan kokoh. Apa jurus ZA?

Saat berkunjung ke Desa Dusun Dalam, Bathin VIII Sarolangun, ZA bercerita, dirinya selalu miris melihat permintaan sumbangan untuk pembangunan masjid di jalan raya. Sebagai seorang muslim, ia merasa malu.

Karena itu, ketika menjabat sebagai Bupati Bungo, ia langsung memanggil rekanan pemerintah daerah.

Para kontraktor itu diberi tanggungjawab mendirikan masjid sesuai kebutuhan masyarakat.

“Ngan (aku, red) kato (bilang) ke kontraktor, daripado (daripada) kamu ngasih sen (uang, red) ke aku, enak kamu bangun masjid. Jangan biarkan masyarakat meminta-minta di jalan,” tutur ZA, sore akhir pekan lalu.

Para rekanan menyambut baik arahan ZA. Begitu mereka mendapat keuntungan, secara bersamaan mereka membantu pembangunan masjid. Sehingga, di zaman itu, kata dia, tidak ada sama sekali warga yang meminta sumbangan masjid di jalan raya.

“Lah kukato (kubilang, red), semua tergantung pemimpin daerah. Masak tega membiarkan masyarakat meminta sumbangan masjid di jalan, cepat ambil tindakan, bantu mereka,” tambahnya.

Dia menuturkan, selain perjuangan, pemimpin itu juga harus rela berkorban. Baik pengorbanan berupa tenaga, waktu maupun materil.

Suka Turun Langsung ke Daerah Pelosok
Zulfikar Achmad (kanan), dalam satu moment bersama mantan Gubernur Jambi (alm) Zulkifli Nurdin.
Zulfikar Achmad (kanan), dalam satu moment bersama mantan Gubernur Jambi (alm) Zulkifli Nurdin.

Ini yang dimaksudnya pengorbanan. Ketika menjabat sebagai Bupati Bungo, ZA acapkali turun langsung ke daerah-daerah pelosok dan terpencil. Ia bahkan rela berjalan kaki menyusuri pematang sawah demi mengunjungi warganya yang tak tersentuh pembangunan.

“Ada satu dusun yang jauh nian, jalan dak ado, jembatan dak ado, ngan tengok langsung ke situ samo kadis-kadis (kepala dinas, red). Terenyuh pas tau kondisi di dusun tu,” cerita ZA.

Ia melihat betapa tertinggalnya warga desa itu. Selain akses jalan tak ada, sarana pendidikan dan kesehatan pun amat minim.

Sepulang dari daerah terpencil itu, ZA langsung mengadakan rapat mendadak. Ia kumpulkan kadis-kadis terkait, lalu memerintahkan mereka agar segera membangun dusun tersebut.

“Kubilang ke Kadis PU (Pekerjaan Umum, red), kalau dak sanggup bangun jalan dan jembatan di situ, brenti bae (berhenti saja) jadi Kadis. Gitu jugo samo Kadis Pendidikan samo Kadis Kesehatan,” kenang sosok yang sering pakai topi cowboy ini, lagi.

Akhirnya, ketika DPRD Bungo menyetujui anggaran, jalan, jembatan, sekolah dan puskesmas, berdiri dengan gagah di dusun yang tak tersentuh pembangunan itu. Warga yang senang menghadiahinya gelar adat.

Bandara Muara Bungo yang Kontroversi
Bandara Muara Bungo
Bandara Muara Bungo

Sejak digagas ZA, rencana pembangunan Bandara Muara Bungo mendapat penolakan dari beberapa pihak. Bahkan, kala itu, sebagian kalangan pesimis akan rencana ZA yang dianggap hanya mimpi di siang bolong.

Tetapi bukan Zulfikar Achmad kalau mudah menyerah. Ya, sosok ini dengan lantang menyuarakan tekadnya untuk membangun bandara di Bungo.

Lewat perjuangan panjang, akhirnya Bandara Muara Bungo resmi beroperasi pada 2012 lalu.

Selain Bandara Muara Bungo, Zulfikar Achmad juga berhasil mendirikan Universitas Muara Bungo, yang hingga kini telah melahirkan banyak sarjana.

“Ngan bupati, kalo ngan nak bangun, ngan bangun. Yang lain dak ado urusan,” ujar gaek yang masih penuh semangat ini.(nas)

BACA JUGA : HBA, Sandal Jepit, Buah Keduduk dan Perjalanan yang Panjang

Loading Facebook Comments ...
loading...