Penemuan Ikan Berkepala Mirip Buaya Gegerkan Warga

0
Ilustrasi ikan Arapaima Gigas. (Ist)
Ilustrasi ikan Arapaima Gigas. (Ist)

Seru Jambi – Penemuan ikan berkepala mirip buaya oleh Pasukan Kuning Singkawang, Kalimantan Barat tepatnya di Jalan Tani Gang Kelapa Dua, Kelurahan Kuala, Kecamatan Singkawang Barat menggegerkan masyarakat setempat.

BACA JUGA : Harimau dan Singa di Taman Rimba Mati

Dilansir dari laman Suara.com (media partner Serujambi.com), Kepala UPT Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Singkawang, Rustam Effendy di Singkawang mengatakan, ditemukannya seekor ikan berkepala mirip buaya itu ketika dia bersama anak buahnya sedang membersihkan saluran air.

“Sewaktu pembersihan parit sedang berjalan, anak buah saya melihat ada seekor ikan sedang berenang,” kata Rustam.

Tetapi, sewaktu ikan tersebut akan ditangkap, ikan tersebut sempat lari.

“Anggota ke kanan, dia (ikan) ke kiri. Begitu seterusnya,” ujarnya.

Namun, upaya yang dilakukan tak sia-sia, akhirnya anak buahnya berhasil menangkap seekor ikan berkepala aneh tersebut.

“Anehnya, sewaktu ditetak pakai parang, badan ikan tersebut tidak apa-apa, bahkan sisiknya pun tidak tergores sama sekali, keras kulitnya,” ungkapnya.

Sekarang ini, ikan berkepala aneh itu sedang dibawa oleh anak buahnya.

“Tidak tahulah mau diapakan. Sewaktu dibawa pakai mobil pun, ikannya masih menggelepar,” katanya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Singkawang, Dani Arief Wahyudi menduga, jika ikan yang ditemukan merupakan ikan sejenis predator yang berasal dari perairan daerah tropis Amerika Selatan.

“Ikan ini dinamakan ikan Arapaima Gigas,” katanya.

Jika dibiarkan, cukup berbahaya karena bisa mendominasi spesies lokal. Arapaima Gigas yang merupakan ikan air tawar terbesar di dunia dari perairan daerah tropis Amerika Selatan itu dinilai berbahaya bila dibudidayakan di Indonesia.

Habitat asli spesies ikan Arapaima ini berasal dari Sungai Amazon yang mempunyai iklim tropis.

“Sehingga penyebarannya ada pada daerah iklim tropis, di antaranya Indonesia, Australia bagian utara, Papua Nugini, dan tentu Amerika Selatan,” ucap Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Hasil Perikanan KKP, Rina.

BACA JUGAJalur Kereta Api Batang Semarang Terendam Air dan Tertimbun Longsor

Dengan demikian, peluang penyebaran di Indonesia cukup tinggi. Sebab, pada prinsipnya penyebaran secara alami bisa terjadi pada daerah yang beriklim sama dengan habitat aslinya. (fok)

Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: