Trik Memilih MLM yang Baik

0
ilustrasi MLM
ilustrasi MLM
Serujambi.com – Pada dasarnya, multi level marketing MLM memiliki dua prinsip dasar. Pertama, adanya produk yang dijual dan kedua, penjualan produk dipusatkan dan tergantung pada usaha anggota untuk mencari dan merekrut anggota baru.
Sejak model bisnis ini dimulai pertama kali di Amerika Serikat di tahun 1930-an, sudah banyak laporan media yang menulis penjualan produk dengan pendekatan MLM.
Sebagian mengatakan bisnis MLM ini bila dijalankan dengan baik akan memberikan kesejahteraan kepada anggota. Banyak pula yang yakin bahwa ini hanyalah skema bisnis penipuan, sering kali disalahdigunakan oleh mereka yang terlibat dan ingin mengambil jalan pintas untuk menjadi kaya.
Yang sering kali terjadi dalam sistem MLM justru produk yang dijual menjadi tidak penting, bahkan diabaikan. Fokus utama dalam bisnis MLM malah dipusatkan pada usaha mencari anggota sebanyak mungkin, karena kemungkinan mendapat penghasilan, atau komisi, akan lebih besar. Penghasilan ini berasal dari uang yang disetorkan anggota baru.
Psikologi mereka yang menawarkan produk
Tidak diragukan lagi, banyak kalangan warga berpendapat jika MLM adalah penipuan.
Beberapa negara termasuk Australia, Singapura dan Inggris sudah melarang model MLM berjaring lewat perekrutan seperti ini.
Karenanya, ketika menawarkan produk ini kepada anggota baru, sebagian orang kemudian menggunakan taktik untuk ‘menjebak’ calon pembelinya. Misalnya mengundang ke acara yang namanya berbeda sama sekali dengan acara yang sebenarnya.
Dari pembicaraan dengan beberapa orang yang merasa menjadi korban penipuan di Melbourne, misalnya, mereka diundang ke acara makan-makan, atau sekedar ingin bertemu dan ngopi saja, ada pula yang diundang untuk menonton acara budaya. Kegiatan sosialisasi seperti ini digunakan untuk menutupi bahwa setelah orang-orang datang, mereka akan langsung diajak bergabung selain juga ada presentasi mengenai bisnis dan produk yang dijualnya.
Ketika ditanya, “kok undangannya acara makan-makan?”, mereka yang mengundang akan menjawab, “memang sebenarnya acara makan-makan, karena dalam pertemuan itu kan ada makanan yang dihidangkan”.
Secara teknis mungkin tidak salah, namun tidak mengherankan beberapa korban merasa kesal atas ‘jebakan’ tersebut.
BACA JUGA : Seru Niaga Jambi
Menurut saya yang juga terjadi adalah secara psikologis para korban ini tidak mempersiapkan diri untuk menghadiri sebuah acara bisnis. Karenanya, ketika kemudian mereka datang ke acara tersebut, mereka cenderung mengambil keputusan yang salah, terlebih karena ada unsur ‘pemaksaan’ secara psikologi.
Inilah yang dikenal dengan sebutan hard selling dan ambush marketing.
Hard selling adalah usaha menjual sesuatu kepada orang lain dengan melakukan bujukan berkali-kali, hingga orang yang mereka bujuk akhirnya menerima tawaran. Alasannya karena mereka ingin segera bisa keluar dari situasi yang penuh tekanan tersebut.
Ambush marketing mengacu ketika seseorang tidak menduga akan ditawarkan dengan suatu produk.
Ditambah lagi dengan begitu banyak informasi yang disampaikan, para korban kemudian tidak memiliki banyak waktu untuk mencerna informasi. Di saat yang sama mereka harus segera membuat keputusan agar cepat selesai, tapi kemudian menyesalinya.
Dari kacamata penjual produk MLM, mereka seringkali berdalih tidak melakukan ‘pemaksaan’ ketika menjual produk. Sebaliknya, mereka mengatakan korban, atau mereka yang merasa dirugikan, yang dengan sendirinya memberikan informasi dan data pribadi secara ‘sukarela’.
Dari beberapa laporan media, yang menjadi persoalan adalah ketika kasus penipuan ini dibawa ke ranah hukum menjadi susah dibuktikan, karena tidak ada bukti nyata mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Yang terjadi adalah ‘perang’ komentar antara kedua belah pihak, tapi tak ada kejelasan siapa mengatakan apa.
Mengapa ada yang menjadi korban, ada juga yang tidak?
Tidak semua yang dirayu, didekati, dan ditawari menjadi anggota MLM merasa menjadi korban.
Ada yang dengan sukarela menjadi anggota yang kemudian mengikuti penjualan ‘produk’ dengan pola perekrutan yang disepakati.
Banyak pula yang memutuskan tidak menjadi angota, karena melihat tidak banyak manfaat bergabung dengan sistem MLM tersebut, apalagi jika fokusnya hanya untuk mencari orang sebanyak-banyaknya.
Sebagian lagi masuk secara ‘sukarela’, tapi belakangan merasa tertipu karena ‘dipaksa’.
Ada juga pihak yang mengatakan mereka seperti merasa ‘dihipnotis’ ketika ditawari produk MLM, sehingga memberikan persetujuan dalam keadaan tidak ‘sadar’ sepenuhnya.
Terlepas dari apa penyebabnya, mereka yang merasa menjadi korban sebenarnya masih memiliki beberapa kemungkinan untuk tidak mengalami kerugian.
Tergantung kapan mereka sadar jika sudah ‘tertipu’ dan ini akan menentukan apakah mereka bisa mendapatkan uang yang sudah disetorkannya kembali atau tidak.
Seorang korban kepada ABC mengatakan ia sadar melakukan kesalahan beberapa jam setelah bergabung dan langsung menghubungi bank untuk membatalkan transaksi kartu kreditnya.
Ia masih mengalami kerugian karena sebagian dibayar tunai. Tapi peraturan MLM seharusnya memungkinkan mereka yang menjadi korban untuk mendapatkan uangnya kembali di masa ‘cooling period’, yang bervariasi antara 1 sampai 14 hari, dimana konsumen dilindungi secara hukum dan memiliki hal yang membatalkan persetujuan.
Ada juga korban yang kini berusaha meminta kembali langsung kepada penjual produk.
Korban lain sudah membayar lebih dari A$15.000 namun tidak merasa menjadi korban dan baru sadar beberapa bulan setelah sebelumnya berharap mereka akan mendapat penghasilan dari keanggotaan MLM tersebut.
Secara umum, mereka yang merasa menjadi korban ini awalnya merasa ‘sendirian’, karena mereka malu menceritakan ‘kebodohannya’ kepada orang lain soal apa yang sudah mereka alami.
Seringkali rasa malu ini membuat pihak berwenang mengalami kesulitan untuk membongkar kasus-kasus penipuan termasuk dalam bisnis MLM, karena korban awalnya enggan melapor ke polisi.
Ada istilah yang mengatakan ‘it takes two to tango’. Diperlukan dua orang untuk berdansa tango, yang juga artinya dalam penipuan pun butuh dua pihak, yakni mereka yang berusaha menipu dan mereka yang menjadi korban.
Karena itu, inilah beberapa hal yang perlu Anda perhatikan jika ditawarai bisnis, terutama bisnis MLM yang saya sarikan dari sejumlah artikel dan laporan.
  • Bayaran untuk menjadi anggota atau memulai bisnis. Bila tujuan bisnis bermaksud menjual sebuah produk, biaya awal sebenarnya tidak diperlukan. Biasanya mereka menggunakan alasan ada ‘uang bergabung’ untuk keperluan pelatihan dan pengembangan diri, padahal bentuknya hanyalah beberapa brosur murahan
  • Dijanjikan bisa mendapat uang banyak dengan sedikit usaha. Memang mungkin saja kita bisa kaya tanpa kerja terlalu keras. Namun ini tidak mungkin terjadi pada semua orang yang ikut dalam bisnis semacam MLM. Mendapatkan uang banyak perlu memerlukan kerja keras bukan sekedar merekrut orang
  • Pembelian produk seringkali disebut sebagai ‘investasi’ dan mereka yang membeli produk mendapat sebutan ‘pemilik bisnis’
  • Banyak perusahaan MLM berkali-kali menekankan seberapa banyak uang yang bisa dihasilkan. Namun tidak menjelaskan bagaimana Anda bisa mendapatkannya. Kebanyakan perusahaan MLM hanya akan bisa memberikan penghasilan sampingan saja, bukan penghasilan utama.
  • Sejumlah perusahaan MLM lebih mendorong anggotanya untuk mencari anggota baru, bukannya menjadikan anggotanya paham betul soal produk apa yang dijualnya. Perusahaan yang diisi dengan banyak anggota namun tidak ada produk yang dijual, hanyalah menjadi kumpulan orang, bukan perusahaan yang akan bisa maju.
Ini juga yang harus dilakukan untuk memilih MLM agar tidak tertipu:
1. Pilih Perusahaan MLM yang terdaftar di APLI
APLI sendiri adalah akronim dari Asosiasi Penjual Langsung Indonesia yang merupakan sebuah asosiasi yang mewadahi berbagai perusahaan MLM. Latar belakang berdirinya APLI adalah karena aturan hukum di Indonesia dianggap belum baku dalam mengatur penjualan langsung. Dari hal inilah akhirnya mendorong beberapa perusahaan MLM menciptakan aturan bersama dan kode etik yang disepakati bersama dalam APLI. Untuk bisa bergabung dengan APLI ini perusahaan MLM harus harus memenuhi sejumlah persyaratan untuk bisa mendapat sertifikasi. Selain itu, perusahaan MLM yang menjadi anggota APLI ini hanyalah dibatasi pada perusahaan yang dianggap betul-betul memenuhi persyaratan sebagai perusahaan penjual langsung. Dari APLI inilah Anda akan mampu mengenali mana perusahaan yang MLM yang baik dan yang bukan.
2. Memiliki Badan Hukum yang Jelas
Selain terdaftar dalam APLI, sebuah perusahaan MLM yang baik bisa dilihat dari badan hukum yang dimilikinya. Sebagai perusahaan yang menjelankan gerak bisnis, perusahaan MLM memang juga dituntut untuk memiliki badan hukum yang jelas. Dalam hal ini sangat disarankan untuk perusahaan MLM membuat badan hukum Perseroan Terbatas (PT) yang memiliki SIUPL dan NPWP. Dengan adanya bahan hukum ini maka mereka bisa mempertanggungjawabkan bisnis MLM tersebut kepada para membernya dan juga kepada konsumen lain yang menggunakan produk mereka.
3. Pilihlah Perusahaan MLM yang Memiliki Produk Beragam
Dengan adanya produk yang banyak dan beragam untuk ditawarkan ke orang lain, maka Anda akan memiliki kesempatan yang besar untuk bisa menjaring downline. Selain itu, dengan adanya produk yang beragam Anda bisa memilih barang yang sesuai dengan ketersediaan budget.
Satu hal lagi yang Anda perlu ingat dan cemarti yaitu pastikan bahwa perusahaan MLM telah memiliki jaminan atas kualitas barang dan jasa yang dijualnya. Hal ini diperlukan agar bisa ditukar apabila suatu waktu barang tidak sesuai dengan kualitas yang sebenarnya. Jadi agar bisa berbisnis MLM yang tepat dan menguntungkan, pilihlah perusahaan yang tidak hanya menawarkan barang dan jasa yang seragam, tapi juga mempunyai jaminan atas kualitas barang dan jasa yang dijualnya.
4. Pilih Perusahaan MLM yang Distributornya Memiliki Sistem untuk Sukses
Proses Distribusi
Bila perusahaan MLM memiliki distributornya yang punya sistem keberhasilan yang baik untuk bisa sukses, maka Anda akan juga bisa ikut cepat sukses. Namun untuk bisa cepat suskes, Anda harus bisa memastikan sistem dalam perusahaan tersebut sudah teruji dan terbukti mampu mencetak banyak orang menjadi berhasil. Lihatlah bagaimana sistem tersebut sudah bisa berjalan efektif dijalankan oleh segala usia dan kalangan dari beragam latar belakang, pekerjaan, pendidikan, jenis kelamin, bahkan oleh mereka yang tidak pernah berbisnis sama sekali. Umumnya perusahaan MLM yang memiliki sistem baik ini bisa ditandai dengan adanya alat-alat bantu usaha, seperti buku-buku kepribadian, kaset-kaset yang memberikan motivasi dan teknik, serta pertemuan-pertemuan yang bisa dihadiri. Anda harus waspada bila mendapati perusahaan MLM yang menawarkan hasil maksimal tanpa harus kerja keras, karena hal ini bisa dibilang sangatlah mustahil terjadi.
5. Upline Mau Membantu Downline untuk Berkembang
Salah satu perwujudan dari sistem sukses perusahaan MLM adalah adanya kondisi atau budaya di mana upline mampu membatu downline untuk terus berkembang. Lihatlah bagaimana mereka memperlakukan para downline dalam menggerakkan bisnisnya. Jika para upline di MLM tersebut tidak aktif atau hanya mengandalkan downline untuk menjual produk atau mengembangkan jaringan mereka, maka sebaiknya Anda tidak memilih perusahaan MLM tersebut. Mengapa demikian? Selain karena hanya menyusahkan Anda sebagai pendaftar yang baru (downline), bisnis MLM yang demikian ternyata juga dianggap banyak pihak sebagai sesuatu yang kurang sehat.
Umumnya pada bisnis MLM yang baik, para upline akan aktif memberikan support berupa bantuan, pembinaan, dan membagikan ilmu marketing kepada downline mereka. Bahkan tak jarang para upline ini akan turun tangan di lapangan untuk bisa memberikan cara atau metode mendapatkan member baru dan menjadikan downline-nya naik level.
6. Lihatlah Apakah Perusahaan MLM Tersebut Diterima Pasar Nasional
Tanda atau ciri sebuah perusahaan MLM yang baik dan bonafit juga bisa dilihat dari skala yang ada pada perusahaan tersebut. Jika Perusahaan tersebut masih belum berskala atau belum diterima secara nasional sistem bisnisnya, maka Anda perlu hati-hati. Untuk bisa berhasil dalam bisnis MLM ini, Anda seharusnya memilih perusahaan yang memiliki skala nasional yang bisa diterima oleh seluruh masyarakat. Biasanya, mereka juga akan mengutarakan visi-misinya bagi kesejahteraan perusahaan dan jaringan distributornya.
7. Memiliki Sistem yang Adil Bagi Semua Member
Secara kasat mata memang akan sedikit banyak terlihat bahwa bisnis MLM ini lebih menguntungkan bagi orang-orang yang bergabung duluan. Sedangkan bagi orang yang baru mendaftar, kurang mendapatkan keuntungan yang besar. Jika Anda mendapatkan sistem yang ada sangat terasa kurang menberikan keuntungan bagi yang baru mendaftar, maka bisa jadi perusahaan tersebut kurang baik.
Karena perusahaan MLM yang baik umumnya akan berlaku adil, dan mereka akan sebisa mungkin membuat semua membernya bisa mendapatkan keuntungan asal mau berusaha keras. Jadi baik mereka yang menjadi upline atau downline haru maus bekerja keras jika ingin mendapatkan keuntungan. Dengan sistem yang seperti ini, semua akan diuntungkan meski mereka baru bergabung.
8. Harga Produk yang Dijual Masuk Akal
Tidak hanya produk beragam yang perlu Anda perhatikan, komponen harga juga harus Anda cermati. Mengapa? Karena harga produk yang dijual oleh perusahaan MLM bisa Anda jadikan salah satu indikasi bahwa bisnis tersebut sehat atau tidak. Cermati apakah produk yang dijual memiliki harga yang wajar dengan kualitas produknya.
Jika sebuah MLM menjual produk yang harganya jauh lebih mahal dari kualitas yang ada dan juga sangat jauh dari harga pasaran, maka Anda harus waspada dan disarankan untuk meninggalkannya. Pada bisnis MLM yang baik dan mumpuni, umumnya penghasilan para membernya bukanlah dipatok dari harga produk yang dibanderol berkali-kali lipat, namun lebih dari itu penghasilan itu haruslah berasal dari jumlah pembeli barang yang banyak karena konsumen puas akan mutu produknya.
9. Memiliki Support Sistem yang Baik
Terakhir tips untuk memilih bisnis MLM yang baik adalah dengan mencermati support sistemnya. Semua orang yang terlibat dalam bisnis MLM ini tentunya selalu menginginkan adanya support center yang bisa mendukung bisnis MLM-nya secara optimal.
Dalam menjalankan bisnis, memang bisa jadi para member ini memiliki keluhan atau permasalahan yang harus ditanyakan. Disinilah peran support center berlaku. Support center ini sendiri bisa berwujud offline ataupun online, yang terpenting support center ini mudah untuk diakses oleh member.
Sumber artikel:
abc.net.au
cermati.com
: MLM : Jambi : Bisnis : Multi level marketing : cara memilih MLM agar tidak tertipu : bisnis digital :
Loading Facebook Comments ...
loading...
Hosting Unlimited Indonesia MEDIA PARTNER: